Permasalahan Sampah di tengah Pandemi Korona

Ayo Pisahkan Sampahmu

PERANAN UMKM DALAM INDUSTRI JASA PENGELOLAAN SAMPAH

Jakarta, 30 Agustus 2019 – Akhir-akhir ini kita dikagetkan dengan berbagai pemberitaan media mengenai impor sampah dan limbah ke Indonesia yang semakin meningkat. Impor sampah dan limbah yang mencakup serat kertas dan plastik disinyalir untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri. “Pertanyaan yang sederhana. Kalau memang benar sebagai bahan baku, kenapa tidak diolah di Negara asalnya saja yang mana merekapun mengaku sudah menerapkan circular economy?” Kata Presiden Indonesia Solid Waste Association (InSWA), Sri Bebassari saat ditemui di TPS3R Rawasari Jakarta Pusat. Jumat (30/8).
Beliau lebih lanjut mengatakan jika ingin memajukan industri daur ulang, jadikanlah industri tersebut sebagai industri jasa pengolahan limbah, bukan industri jual beli barang bekas. Polluter Pays Principle. Pihak yang membuang limbah harus yang membayar, dan yang mengolah limbah harus dibayar. Sri Bebassari juga mengatakan bahwa karena sampah dianggap sebagai bahan baku maka hal tersebut menjadi celah yang dimanfaatkan oleh Negara maju untuk mengekspor limbahnya ke Indonesia dengan dalih menjadi bahan baku yang harus dibeli.
Terkait dengan hal tersebut di atas dan menindaklanjuti Undangan Bapak Presiden Joko Widodo pada tanggal 18 Juni 2019 kepada Himpunan Pengusaha Mikro dan Kecil (HIPMIKINDO) untuk memberikan masukan mengenai isu-isu strategis Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), maka HIPMIKINDO bekerjasama dengan Perkumpulan Persampahan Indonesia atau Indonesia Solid Waste Association (InSWA) dan Poros Hijau Indonesia Korda DKI Jakarta yang merupakan organisasai profesi non profit di bidang pengelolaan sampah untuk mendorong peran aktif UMKM dalam pengelolaan sampah di Indonesia melalui kegiatan Focus Grup Discussion (FGD) yang diselenggarakan pada tanggal 30 Agustus 2019 di TPS3R Rawasari, Jakarta Pusat. Kegiatan ini dihadiri oleh Kementerian dan lembaga Negara, Pemerintah Provinsi/Kabupaten Kota, Lembaga Masyarakat/NGO/Asosiasi, Perguruan Tinggi/Akademisi, Perusahaan BUMN/BUMD dan Perusahaan Swasta.

Diharapkan dengan adanya Focus Grup Discussion ini akan melahirkan sumbangsih pemikiran Solusi Sampah di Indonesia. Karena akan banyak pihak yang turut terlibat dalam pengelolaan sampah di Indonesia, termasuk para UMKM. Selain keterlibatan perusahaan-perusahaan besar yang berpartisipasi dalam program pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dengan hasil sampingannya berupa listrik yakni sesuai dengan Peraturan Presiden nomor 35 tahun 2018 mengenai Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah menjadi Listrik atau yang sering dikenal dengan PLTSa, maka peranan Industri-industri kecil dan mikro ini adalah sebagai Industri jasa di bidang pengelolaan sampah. “Peranan UMKM yang jumlahnya saat ini mencapai 63 juta lebih atau setara dengan 99,7% dari total jumlah pengusaha Indonesia, turut menyumbang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 60,34%, kontribusi terhadap tenaga kerja sebesar 97% sementara kontribusi ekspor sebesar 14,17%.

Syahnan Phalipi, Ketua Umum DPP HIPMIKINDO mengatakan bahwa “Kita harus memaksimalkan peran UMKM agar lebih bertumbuh maju dan sukses menuju Indonesia lebih sejahtera, makmur, berkeadilan secara berkelanjutan”. Menurut beliau, Pengelolaan Sampah adalah problem kita bersama yang sekaligus terdapat opportunity atau peluangnya. Sebaiknya juga melibatkan semua stake holders termasuk UMKM untuk mengelola sampah agar solusi komprehensif tercapai dengan efektif, efisien dan saling menguntungkan.

Perlu diketahui bahwa terdapat 5 (lima) aspek yang harus terintegrasi dalam sistem pengelolaan sampah di Indonesia. Aspek yang pertama adalah Aspek Hukum. Aspek hukum di sini menjadi aspek yang penting dan mendasar dalam penanganan sampah atau limbah. Sehingga dalam penyusunan kebijakan dan perencanaan pengelolaan persampahan memiliki dasar hukum yang kuat. Permasalahan Aspek Hukum meliputi kurangnya sosialisasi mengenai peraturan secara professional, lemahnya penegakan hukum terhadap pelanggar UU atau Perda tentang Persampahan serta pada saat penyusunan peraturan belum melibatkan semua komponen yang aktif.

Kedua adalah Aspek Kelembagaan. Aspek Kelembagaan meliputi peran dari para stake holder dan pemerintah dalam penanganan sampah sangatlah penting. Pembagian peran dari masing-masing stake holder terkait harus jelas sehingga tidak terjadi tumpang tindih.

Identifikasi permasalahan aspek kelembagaan ini meliputi masih lemahnya koordinasi antar Kementerian atau Lembaga terkait Persampahan dan belum jelas pembagian peran, siapa regulator dan siapa operator. Melihat kondisi pengelolaan sampah saat ini, kiranya perlu dibentuk suatu Badan untuk pengelolaan sampah di Indonesia yaitu Badan Pengelolaan Sampah Nasional (BPSN).
Ketiga adalah Aspek Pembiayaan atau Finansial. Pengelolaan sampah yang benar memerlukan biaya yang tidak sedikit, mulai dari biaya pengangkutan hingga pemrosesan akhir. Permasalahan terkait Aspek Pembiayaan ini bisa kita lihat bahwa alokasi anggaran pengelolaan sampah belum menjadi prioritas baik dalam APBN maupun APBD. Selain itu masih minimnya jumlah retribusi atau iuran sampah.
Aspek yang keempat adalah Aspek Sosial Budaya. Penting bahwa adanya perencanaan pengelolaan persampahan ini tersampaikan kepada masyarakat. Komunikasi yang baik kepada masyarakat perlu dilakukan, Sehingga masyarakat mampu memahami dengan baik dan akhirnya tercipta kebudayaan di masyarakat yang sadar lingkungan. Karena masyarakatpun harus mengambil peran dalam pengurangan dan penanganan sampah di Indonesia, sehingga pengelolaan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah, namun menjadi tanggung jawab kita bersama. Keberhasilan sistem pengelolaan sampah yang baik bisa dilihat dari mindset dan perubahan pola pikir masyarakat yang peka terhadap lingkungan. Adanya pengelolaan sampah yang baik juga dapat mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan. Sehingga kemudian dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Kelima adalah Aspek Teknologi. Setiap Teknologi memiliki kelebihan dan kekurangan. Tidak ada teknologi yang paling baik atau paling buruk, yang ada adalah teknologi yang paling cocok. Permasalahannya adalah masih minimnya pengetahuan masyarakat mengenai teknologi pengolahan sampah dan teknologi yang digunakan saat ini pun harus disesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat setempat.

INSWA

Polemik Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa)

Beberapa hari ini beredar di media sosial ajakan untuk mendukung judicial review terhadap peraturan presiden No. 18/2016 tentang Percepatan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di 7 kota/provinsi: Jakarta, Tangerang, Bandung, Semarang, Makassar, Surabaya, dan Surakarta. Seruan itu berisi kekhawatiran bahwa sampah kota yang dibakar akan memberikan dampak buruk terhadap kesehatan dan lingkungan, dan bertentangan dengan kondisi di Indonesia, regulasi yang ada, dan lain sebagainya.

Sekilas, publik tentu akan langsung bereaksi ikut menentang Perpres tersebut, dan terbukti dari beberapa grup yang saya ikuti, re-tweet dan ajakan untuk mendukung semakin bergulir. Meskipun tetap ada juga yang tidak ikut re-tweet dengan berbagai alasan atau tidak menanggapi sama sekali. Memang demikian adanya media sosial saat ini.

Sebagai individu yang senang belajar tentang sampah, khususnya sampah kota, saya tergelitik untuk menanggapinya. Mudah-mudahan bisa memberikan pandangan yang lebih berimbang.

Pertama, perlu dimengerti terlebih dahulu bahwa yang dimaksud pembakaran sampah dalam Perpres bukanlah pembakaran terbuka seperti jaman dahulu nenek kakek kita membakar sampah di halaman. Atau pembakaran tertutup dengan tungku seperti di rumah sakit atau crematorium yang kapasitasnya kecil dan masih dilakukan feeding (sampah masuk) secara manual. Pembakaran kapasitas kecil semacam ini justru tidak lagi direkomendasikan untuk sampah kota dan terbukti banyak menemui kegagalan (BPPT, 2003).

Pembakaran yang dimaksud dalam Perpres adalah teknologi tinggi yang harus aman, baik prosesnya maupun abu dan emisi gas buang nya. Pembakaran sampah yang dimaksud dilakukan juga di banyak negara termasuk negara tetangga Singapura yang terkenal sangat bersih, dan sedikitnya berfungsi ganda: mengurangi volume sampah hingga tinggal abunya, dan menghasilkan tenaga listrik. Kapasitasnya minimal 1000 ton sampah per hari, dan listrik yang dihasilkan mampu mencapai 10 MW. Bangunan fisiknya mirip seperti mal yang banyak dijumpai di kota besar. Bukan investasi yang sedikit, karena penyedia teknologi nya wajib memiliki lisensi internasional, dan operator nya harus memiliki kompetensi tinggi. Hampir sepertiga dari investasi dialokasikan untuk memastikan emisi gas buang, termasuk dioksin yang sangat ditakutkan itu, aman. Menurut Internasional Solid Waste Association (ISWA) pada laporannya tahun 2013, tercatat lebih dari 1200 PLTSa beroperasi di lebih dari 40 negara di seluruh dunia.

Di Indonesia, pengembangan PLTSa sebenarnya juga bukan hal yang baru. Tahun 1980-an, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan Studi Kelayakan PLTSa untuk DKI Jakarta. Teknologi thermal pun telah dipilih untuk Intermediate Treatment Facility (ITF) di Sunter, dan proses lelang investasi pun telah dimulai. Demikian pula dengan Bandung. Berbekal kepahitan paska darurat sampah di kota tersebut, dilakukanlah proses lelang PLTSa untuk lokasi Gedebage. Namun proyek-proyek investasi ini tidak berlanjut hingga saat ini, karena berbagai kesulitan yang ditemui.

Kedua, publik juga perlu menyadari bahwa permasalahan sampah kota di Indonesia semakin pelik dan genting, sehingga urgensi untuk teknologi tinggi yang mampu menangani tingginya volume sampah semakin mendesak. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah di kota-kota metropolitan semakin penuh, padahal lahan semakin terbatas. Jika estimasi setiap orang menghasilkan ‘dosa’ 0.5 kg sampah per hari, maka Jakarta menghasilkan 6000 ton per hari, membutuhkan lebih dari 1000 trip truk sampah, untuk ditimbun di ‘gunung sampah’ seluas lebih dari 120 hektar lahan di Bantargebang.

Bagi kita yang tinggal jauh dari lokasi TPA, mungkin tidak terbayang betapa gawatnya kondisi persampahan saat ini. Tapi ingatkah kita akan tutupnya TPA di Leuwigajah Bandung tahun 2005, yang berdampak pada kondisi kota yang ‘tertimbun’ sampah selama berminggu-minggu hingga ke jalan raya, halaman kantor, sekolah bahkan di depan rumah? Bukan tidak mungkin kejadian itu berulang, khususnya di kota-kota metropolitan dengan penduduk lebih dari 1 juta jiwa.

Instalasi pengolahan sampah skala besar khususnya PLTSa menjadi pilihan logis untuk darurat sampah, karena membutuhkan lahan yang tidak terlalu luas, dan didukung oleh teknologi yang sudah mapan. Pilihan lainnya jika sudah terjadi darurat sampah, adalah peraturan ekstrim bahwa seluruh lapisan masyarakat dilarang (ada sanksi hukumnya) membuang sampah terutama sampah mudah membusuk. Masyarakat harus memastikan untuk mengolah sendiri sampahnya, secara swadaya atau menggunakan jasa pihak lain. Siapkah kita jika ini terjadi?

Ketiga, Perpres ini tidak memberi arti bahwa PLTSa akan serta merta beroperasi dalam 1 – 2 tahun ke depan. Banyak hal yang harus diselesaikan, termasuk studi kelayakan untuk tiap kota/provinsi terpilih tersebut, untuk menentukan go or no go dari proyek PLTSa. Bukan hanya aspek teknisnya, tapi juga kelembagaan dan sosial.

Investasi yang tinggi juga membutuhkan kepastian sumber pembiayaan. Seperti diketahui, meskipun PLTSa dapat memperoleh income dari penjualan listrik, namun biaya pembangunan dan operasional yang tinggi – khususnya jika investasi dilakukan oleh swasta murni – tidak dapat tercukupi tanpa adanya pemasukan dari tipping fee atau jasa pengolahan sampah. Pemerintah masih berpikir ulang untuk memutuskan apakah subsidi dapat dilakukan terhadap proyek PLTSa. Tanpa subsidi, maka retribusi dari masyarakat lah yang harus dikejar untuk memenuhi kebutuhan biaya.

Pertanyaannya sekarang, siapkah kita mereformasi paradigma kita bahwa mengolah sampah tidaklah murah? Tentu banyak pilihan lain yang lebih murah, ramah lingkungan, seperti membuat kompos sendiri di rumah, ikut bank sampah, mendaur ulang, dan lain sebagainya. Tentu, jika penyakit persampahan kita masih sakit ringan dan sedang. Tapi jika sudah stroke, atau kanker, silakan tanyakan pada diri kita sendiri, apakah masih cukup dengan olah raga dan minum suplemen atau antibiotik? Mau tidak mau, suka tidak suka, ikhtiar kita tentu sudah ke level operasi besar, atau kemoterapi, yang memiliki resiko tinggi dan biaya mahal. Demikian juga dengan gawatnya penyakit persampahan kita di kota-kota metropolitan saat ini. Sudah saat nya kita berani ambil keputusan untuk nasib dan masa depan kita bersama. Wallahualam.

Dini Trisyanti

Deputi Peningkatan Kapasitas dan Pendampingan Teknis, Indonesia Solid Waste Association (InSWA)

Direktur, Sustainable Waste Indonesia (SWI)

MERUBAH PERILAKU SENANG MEMILAH DAN MENGOLAH SAMPAH

Suatu tantangan sangat berat mampu merubah perilaku dari masa bodoh, membuang sampah sembarangan dan tidak peduli terhadap keberadaan sampah hingga senang memilah dan mengolahnya. Bahkan mau melakukannya dari rumah dengan tangannya sendiri.

Upaya ubah perilaku dan culture tersebut ada yang butuh waktu 40 tahun, 100 tahun seperti Jepang. Bahkan lebih lama lagi. Sebelum muncul budaya cinta pilah dan olah sampah, mereka membuat kebijakan dengan produk peraturan perundangan dan action plan yang dilakukan secara terencana, bertahap, ketat dan berkelanjutan.

Bagaimana dengan kondisi pengelolaan sampah dan kultur masyarakat kita? Sejak lama dalam religi, dan juga teologi diajarkan tentang kebersihan. Bahkan kebersihan itu bagian dari iman. Namun policy dan perundangan tentang Pengelolaan Sampah baru disahkan pada April 2008, dikenal dengan UU No 18/2008. Kemudian baru muncul PP No 81/2012, waktu cukup lama.

Perilaku dan budaya pilah dan olah sampah belum terbentuk. Kita serba kedodoran kelola sampah, terutama metropolitan dan kota besar di Indonesia. Sampah dari hulu hingga hilir masih jadi permasalahan pelik dan kompleks. Bahkan seringkali terjadi polemik dan konflik. Perilaku dan culture kita belum bisa menerima budaya bersih secara total, padahal menginginkannya.

Setelah perilaku dan cultur kita terlembagakan menjadi bentuk keharusan, maka pilah dan olah sampah pun tanpa harus diperintah, apalagi ditekan. Semua menjadi sangat sadar. Selanjutnya memilih teknologinya: composting, recycling, incinerasi, waste to energy, sanitary landfill, dll.

Ketika menghadapi situasi yang sangat berat, jumlah volume sampah sekitar 8.000 ton//hari, kondisi sampah tak terpilah sementara tumpuk sampah di TPA semakin banyak dan menggunung serta zona semua penuh, pemerintah harus punya opsi cepat. Yaitu pilih teknologi yang dapat kurangi sampah secara massal guna memotong kondisi darurat sampah. Hulu dan hilir darurat sampah?!

Pilihan bijaksana adalah memanfaatkan teknologi insenerator canggih. Dengan volume sampah di atas perlu bangun 3-4 unit insinerator, dengan masa operasional 30-40 tahun. Baru kemudian dibangun insinerator baru.

Setidaknya situasi darurat dapat diatasi selama jangka waktu 30-40 tahun. Sehingga kita punya waktu membuat perencanaan pengurangan sampah dan program 3R (reduce, reduce, recycle). Program insenerator atau waste to energy (WtE) merupakan program jasa kebersihan dan menghasilkan listrik. Tetapi kita jangan menggembar-gemborkan listrik dari sampah. Listrik hanya produk sampingan.

Sesungguhnya yang diutamakan adalah jasa kebersihan, dan kebersihan merupakan modal investasi suatu kota. Kota yang bersih, aman dan peduli lingkungan akan didatangi banyak investor. Kota bersih merupakan cermin dari perilaku dan kultur atau peradaban manusia dan kota yang sudah maju atau modern.

Jika kita mampu mengatasi permasalah sampah berarti telah mencapai kemajuan beberapa langkah pada peradaban modern. Dalam konteks agama telah mencapai keyakinan tingkat tinggi dan kafah. Kapan kita dapat mewujudkan kota dan lingkungan bersih, indah dan sejuk?

Bagong Suyoto, Ketua Umum Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI)

Implementasi lima aspek dalam pengelolaan sampah

Kolaborasi Super Indo dan InSWA Sudah Kurangi 4 Juta Lembar Kantong belanja Plastik Setiap Tahun

Pengelolaan sampah yang baik dan benar di kalangan masyarakat menjadi salah satu perhatian besar bagi kita semua. Indonesia Solid Waste Association (InSWA) bersama Pusat Pengembangan Riset Sampah Indonesia (PERISAI), bekerjasama dengan Super Indo menyelenggarakan Workshop ‘Bijak Kelola Sampah 2018’, pada Sabtu (14/07), di TPS 3R Rawasari, Jakarta pusat

Workshop yang diselenggarakan selama satu hari penuh itu diikuti oleh peserta dari komunitas Super Indo Berkebun Tangerang Selatan dan Bekasi dan associates sebanyak total 28 orang

Bertindak sebagai pemateri ialah Ketua Umum InSWA Sri Bebassari, Ketua Umum Perisai Nurina Aini Herminindian dan Abdul Khamim yang merupakan sekretaris umum Pusat Pengembangan Riset Sampah Indonesia

Diharapkan, dengan adanya workshop tersebut, para peserta mampu menjadi pelopor di tengah masyarakat  sebagai agen perubahan untuk mengelola sampah dengan bijak. “Harapannya setelah mendapatkan ilmu bisa dibagikan ke komunitas dan masyarakat sehingga bisa jadi agen perubahan kelola sampah dengan bijak,” ujar Head of Corporate Affairs and Sustainability Super Indo Yuvlinda Susanta.

Bagi InSWA sendiri, workshop tersebut memiliki nilai yang penting dalam upaya menumbuhkan rasa peduli dalam mengelola sampah di kalangan masyarakat. Pasalnya, bijak dalam mengelola sampah harus didasari rasa peduli dari dalam diri sendiri.

“Hal yang paling utama adalah kepedulian itu sendiri, sebab tidak peduli terhadap sampah justru akan memunculkan masalah yang lain. Hadirnya para peserta dalam workshop ini secara tak langsung turut berkontribusi dalam mengurangi sampah dan ilmu yang sudah didapat dalam workshop ini bisa diterapkan di lingkungan sekitar,” ungkap Sri.

Adapun dalam kegiatan workshop tersebut, peserta diberikan materi berupa informasi mengenai pengelolaan sampah dengan bijak  dan mendapat pelatihan singkat membuat pupuk kompos dari sisa sayuran dan makanan, serta membuat kertas daur ulang dari sampah.

Para peserta tampak antusias mengikuti pelatihan dan bersemangat mempelajari pengelolaan sampah dengan baik dan benar sehingga bisa mengelola sampah-sampah yang berasal dari barang tidak berguna menjadi sesuatu yang bernilai.

Salah satu peserta workshop, Abdul Azis dari Bekasi mengatakan, pelatihan semacam ini dinilai penting untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap sampah. Ia pun berharap ilmu yang didapat bisa diimplementasikan di lingkungan masing-masing. “Apa yang saya peroleh dalam pelatihan ini sangat bermanfaat dan saya ingin mengimplementasikan ke lingkungan tempat tinggal saya,” kata pria yang juga menjadi peserta workshop terbaik ini.

Kolaborasi untuk mengurangi sampah

Kerja sama antara Super Indo dan InSWA tercatat sudah memasuki tahun kelima dan sudah membuahkan hasil yang terbilang baik. Kolaborasi antara Super Indo dan InSWA ini mampu mengurangi sampah sebanyak 4 juta lembar plastik setiap tahunnya. “Hingga tahun lalu kita sudah mampu mengurangi 4 juta lembar kantong plastik per tahun dan tahun ini melebihi angka tersebut,” ungkap Sri. Menurutnya pengurangan sampah secara besar-besar diperlukan upaya kolaborasi dari berbagai kalangan termasuk pemerintah dan pelaku bisnis seperti Super Indo. Kepedulian yang ditunjukkan oleh Super Indo dalam menjaga keberlanjutan lingkungan lewat pengelolaan sampah dinilai penting untuk lingkungan.

“Masyarakat bisa diajak untuk bisa peduli terhadap sampah, namun yang terpenting adalah peran pemerintah dan pelaku bisnis. Salah satunya apa yang sudah dilakukan oleh Super Indo ini. Sangat baik dan semoga bisa menjadi inspirasi bagi pelaku bisnis lainnya,” tutup Sri.

Bijak Kelola Sampah sejak dini ala Sekolah Alam Cikeas


28 Februari 2018 di pagi hari sudah terparkir sebuah bus di depan Kantor Suku Dinas Lingkungan hidup Jakarta Pusat. Puluhan anak berseragam khas lapangan terlihat berhamburan dengan tentengan masing-masing; sepatu booth, topi, kaus tangan, dan masker. Hari itu adalah hari pertama anak-anak SMP kelas VII Sekolah Alam Cikeas ini melaksanakan Project Based Learning (PBL) angkatan ke-5, semacam program kerja lapangan yang dilakukan di setiap semester, di Tempat Pengolahan Sampah 3R Rawasari, Jakarta Pusat.

Selama dua hari mereka akan menghabiskan waktu dari pagi hingga menjelang sore serta menginap di TPS 3R Rawasari untuk mengerjakan projek yang mereka sebut Pengelolaan Sampah Skala Kawasan. Bisa dibayangkan betapa hebatnya mereka sampai rela menginap di Tempat Pengelolaan sampah. Tapi tunggu dulu, TPS 3R Rawasari bukan hanya sekedar “TPS biasa” tapi merupakan TPS bintang lima yang fasilitasnya cukup lengkap, ada Tempat pelatihan, kantor dan juga dilengkapi dengan Toilet bersih dan Musholla, dan yang paling penting TIDAK BAU sehingga mereka merasa tidak sedang di Tempat pengolahan sampah.

Semua aspek pengelolaan sampah di skala kawasan akan mereka kaji; mulai dari aspek

teknologi, kelembagaan, pembiayaan, sosial budaya, hingga aspek peraturan.

Ya, tujuan utama anak-anak ini memang TPS 3R Rawasari, yang berlokasi tepat di depan Kantor Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat, bersebelahan dengan Kantor Pemadam Kebakaran sektor V Kecamatan Cempaka Putih, namun tempatnya memang agak menjorok sedikit ke dalam. Ketika masuk ke halamannya yang berdekatan dengan pintu masuk, barulah terlihat plang informasi TPS 3R Rawasari.

Kalau dilihat sepintas dari jalan, tidak ada yang bakal tahu kalau di kawasan kurang dari 1000 m2 ini setiap hari siap menerima berton-ton sampah dari masyarakat untuk diolah menjadi kompos. Maka sudah siap dengan segala ‘alat tempur’ keselamatan kerja, mereka akan belajar menjadi pengelola sampah.

Pada hari Pertama para siswa dari Sekolah Alam Cikeas ini menikmati Betapa serunya menjadi aktor petugas kebersihan dengan dibagi menjadi dua kelompok. Diawali dengan Materi pengetahuan tentang pengelolaan sampah yang disampaikan oleh Bp. Abdul Khamim dari Indonesia Solid Waste Association mereka mengikuti dengan serius, untuk selanjutnya langsung terjun ke permukiman menggunakan gerobak sampah milik RT guna mengambil sampahnya dan selanjutnya mereka pilah mana yang masih dapat dimanfaatkan, dikomposkan dan mana yang tidak dapat dimanfaatkan atau residu, mereka begitu antusias ketika mendapati fakta bahwa dari sampah yang mereka kumpulkan dari gerobak kelompok pertama mendapatkan hasil Rp 11.000,- dan dari kelompok ke-2 Rp. 14.000,-selanjutnya mereka mengikuti proses pembuatan kompos sampah domestik; mulai dari, menimbang, mencacah, membalik, menyiram,hingga memanen kompos.

Pada jam satu siang teng, setelah istirahat untuk sholat dan makan siang, selanjutnya para siswa mengikuti praktek pembutan kompos dengan metode Osaki serta pembuatan kompos dengan menggunakan tong komposter skala rumah tangga.

Pada hari ke.2 para siswa diajarkan bagaimana cara memanfaatkan sachet bungkus kopi untuk dijadikan kerajinan tangan dan dilanjutkan dengan praktek pembuatan kertas daur ulang

Project Based Learning dari sekolah Alam Cikeas ini sudah berlangsung secara rutin sejak tahun 2014 ningga saat ini dan merupakan pioner yang juga diikuti sekolah sekolah lain seperti Sekolah Alam Bintaro, Sekolah Noah dan masih banyak yang lainnya.

Sebuah pengalaman seru yang tidak bakal terlupakan.

Menuai Kebajikan Melalui Kepedulian (Menyambut Hari Peduli Sampah Nasional, 21 Februari 2017)

Hujan turun rintik-rintik saat aku memasuki lorong kecil yang rimbun di pagi hari itu.  Sekilas tercium sedikit bau busuk dari sampah yang baru datang, menumpuk di halaman sebelah. Tapi begitu masuk ruang pertemuan yang terang benderang, dengan suhu ruangan ber AC yang nyaman, tidak ada lagi bau busuk, apalagi lalat. Itulah kesan pertama yang kurasakan sewaktu mengunjungi lokasi tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Rawasari yang terletak di Jl. Rawasari Selatan, dekat Kantor Kecamatan Cempaka Putih, Jakarta Pusat beberapa hari yang lalu.

Sampah yang dihasilkan warga sekitar diolah di TPST Rawasari menjadi kompos dan barang-barang bermanfaat lainnya, seperti taplak meja, tas, dan berbagai wadah yang cantik, sisanya baru dibuang ke tempat pengolahan akhir atau TPA. Yang menarik, tidak ada bau sama sekali dan sergapan lalat seperti kita temui pada pengolahan sampah di tempat lain yang baunya menyengat dan lalat beterbangan. Halaman yang digunakan untuk mengolah sampah tampak bersih, bersebelahan dengan kebun yang asri dengan berbagai tanaman yang rindang, sehingga pengunjung tidak merasa berada di tempat pengolahan sampah.

Adalah Sri Bebassari, seorang penggiat pengolahan sampah, yang menjadikan TPST Rawasari menjadi menarik. Apa resepnya? “Jangan biarkan sampah menginap”, kata Sri yang akrab dipanggil Enchi. “Begitu datang, sampah langsung dipilah, sampah daun dicacah dulu, dan sampah bukan organik dipisahkan, dengan demikian sampah tidak sempat membusuk dan bau”, kata perempuan paruh baya yang dijuluki Ratu Sampah itu. Berkat kerja kerasnya, Sri, yang lulusan Teknik Penyehatan (sekarang Teknik Lingkungan) ITB tahun 1979 tersebut, mendapatkan Kalpataru Kategori Pembina Lingkungan pada tahun 2015, penghargaan tertinggi dari pemerintah untuk para penggiat yang peduli pada lingkungan.

Sri bercerita bahwa TPST itu dulunya adalah proyek percontohan yang dibuat oleh BPPT sewaktu dia bekerja dulu, untuk pengolahan sampah terpadu skala lingkungan. Setelah diserahterimakan ke Pemda DKI, ternyata proyek tersebut terbengkalai, mangkrak dan tidak jelas keberlanjutannya. Dengan memanfaatkan jabatannya sebagai Ketua Umum Indonesia Solid Waste Association (InSWA), Sri kemudian membuat Kesepakatan Kerjasama (MoU) antara InSWA dengan Pemda DKI, untuk melanjutkan pengoperasian TPST tersebut, yang berlanjut sampai sekarang.

Saat ini TPST mengolah 2 ton sampah setiap hari dari lingkungan sekitarnya, dari kapasitas penuhnya sebanyak 4 ton perhari. Seharusnya, kata dia, Pemprov DKI membayar tipping fee kepadanya untuk setiap ton sampah yang dia olah, tapi pada kenyataannya dia harus mencari berbagai cara agar TPST eksis dan terus berjalan. Sebagian dari peralatan kantor dan fasilitas di TPST ini berasal dari barang-barang milik Sri sendiri yang dia boyong dari rumahnya, sebagian lain berasal dari sumbangan sukarela dan hasil kerjasama dengan beberapa fihak dalam program CSR. Sri sedang menuai kebajikan melalui kepeduliannya terhadap pengolahan sampah.

Memang, bagi kebanyakan pemerintah daerah, pengolahan sampah masih belum mendapat prioritas tinggi, kalah dengan pembangunan sarana kota lainnya. Menurut Sri, apabila kota diibaratkan sebagai rumah, maka kita sudah mampu membuat ruang tamu yang mewah sekelas lobi hotel bintang lima, tapi untuk urusan belakang, limbah dan sampah, sebagian besar dari kita masih belum peduli. Masih banyak pemerintah daerah yang belum mampu mengelola sampahnya dengan baik, karena dana yang disediakan untuk mengelola sampah masih jauh dari cukup.

Dari aspek pengaturan, kita masih tertinggal dari Jepang dan Singapura misalnya, yang telah lama memiliki peraturan perundangan tentang sampah. Di Jepang, peraturan tentang sampah sudah berumur 100 tahun. Kita masih bersyukur karena, meskipun sudah sangat terlambat, kita sudah memiliki undang undang tentang sampah dengan diterbitkannya UU No 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Peran Sri dalam penerbitan UU tersebut ternyata juga tidak kecil, mulai dari melobi anggota DPR sampai menulis surat langsung kepada Presiden SBY waktu itu. Kebetulan Sri pernah diminta ikut dalam rombongan SBY sewaktu kunjungan kerja ke Shanghai, China.

Menurutnya lagi, dalam masalah sampah, diluar aspek pendanaan dan peraturan, kita terlalu banyak berkutat pada aspek teknologi, tapi melupakan aspek penting lainnya yaitu kelembagaan dan sosial budaya. Dan diatas segalanya, niat atau bahasa kerennya: political will dari para elit politik di daerah masih rendah, padahal itu menjadi penentu berhasil tidaknya pengelolaan sampah yang baik.

Ditanya kenapa tertarik dengan sampah, Sri mengatakan bahwa yang belajar sampah di dunia ini tidak sampai 1 persen, sementara yang buang sampah itu semua orang, atau 100 persen. Jadi mengelola sampah itu benar-benar memerlukan kepedulian, ketekunan dan kecintaan. Itulah yang menjadi pendorong semangat perempuan kelahiran Bandung pada 28 Juni 1949 itu untuk menghabiskan waktunya menekuni pengolahan sampah dengan melakukan berbagai percobaan, jauh sebelum berdirinya InSWA pada tahun 2003.

Banyak dari kita yang mungkin belum tahu bahwa hari ini (21 Februari 2017) adalah Hari Peduli Sampah. Tanggal tersebut diambil dari peristiwa tragis terjadinya longsor di TPA Leuwi Gajah pada tahun 2005, yang menelan ratusan korban meninggal dan dua kampung adat hilang dari peta. Sejak itu, tanggal 21 Februari dijadikan sebagai Hari Peduli Sampah Nasional.

Lalu, apa artinya penerbitan UU tentang sampah dan ditetapkannya tanggal 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah bagi kita? Andalah yang harus menjawabnya. Yang jelas, sampah ternyata bisa dikelola dengan baik apabila kita peduli, dan ada niat, sesederhana itu.

 

Salam Kompasiana

 

 

Sumber : Kompasiana

http://googleweblight.com/?lite_url=http://m.kompasiana.com/rissukarma/menuai-kebajikan-melalui-kepedulian-menyambut-hari-peduli-sampah-nasional-21-februari-2017_58ab5de0927a61080ef56079&lc=id-ID&s=1&m=365&host=www.google.co.id&ts=1487629495&sig=AJsQQ1CvvVHefJOuotbKrHD9GPsLaQqEIA

SUPER INDO DAN InSWA GELAR PELATIHAN BIJAK KELOLA SAMPAH

Bandung, 10 Maret 2016 – Super Indo bekerja sama dengan Yayasan PERISAI dan Indonesia Solid Waste Association (InSWA) mengadakan kegiatan workshop pengelolaan limbah rumah tangga. Kegiatan berlangsung di Bumi Samami Jalan Terusan Cigadung No. 15, Tubagus Ismail, Bandung, dan diikuti oleh pelanggan-pelanggan setia Super Indo dan berbagai institusi terkait tanpa dipungut biaya. Pelatihan ini merupakan lanjutan kegiatan pelatihan pertama yang diselenggarakan di TPS 3R Rawasari Jakarta Pusat pada bulan Desember 2015 yang juga diikuti oleh pelanggan Super Indo di wilayah Jakarta

 

Program ini sejalan dengan komitmen Super Indo untuk mewujudkan lingkungan yang lebih hijau, bersih dan berkelanjutan. Seperti dikatakan oleh Yuvlinda Susanta, Department Head Corporate Communication & Sustainability “Super Indo telah menjalin kerjasama dengan Yayasan Perisai dan InSWA dalam hal edukasi kelola sampah secara bijak sejak 2013. Selain itu, Super Indo juga telah menjalankan berbagai inisiatif pengelolaan sampah seperti komposting, kampanye pengurangan penggunaan kantong plastik melalui pemberian insentif kepada pelanggan, menerapkan ujicoba plastik tidak gratis, mendaur ulang minyak jelantah menjadi bio diesel, food donation, dan juga memanfaatkan sisa buah dan sayur menjadi pakan hewan.” Tujuan workshop pengelolaan limbah rumah tangga secara mandiri ini adalah untuk mendukung terwujudnya lingkungan yang lebih bersih, khususnya di tingkat rumahan. Limbah bisa ditransformasi menjadi kompos ataupun kerajinan tangan yang bernilai ekonomis. Pemaparan dan pelatihan dilakukan oleh tim Indonesia Solid Waste Association, organisasi nirlaba yang bergerak di bidang manajemen dan riset sampah padat di Indonesia. Dalam kegiatan tersebut, para peserta memperoleh kesempatan untuk belajar dan mempraktikkan secara langsung pengelolaan limbah rumah tangga.

 

 

Pelatihan ini diselenggarakan sebagai bentuk pertanggung jawaban Super Indo dan Yayasan Perisai dalam mengelola donasi pelangggan. Selama ini, pelanggan yang memilih untuk tidak menggunakan kantong plastik, berhak menerima insentif berupa cash back yang bisa menjadi diskon atau dapat di donasikan. Selama tiga tahun menjalin kerjasama terkumpul dana lebih dari Rp 166 juta yang disalurkan kepada Yayasan Perisai dan InSWA untuk program bijak kelola sampah. Super Indo percaya akan semakin banyak lagi pelanggan yang peduli terhadap pelestarian lingkungan melalui pengelolaan sampah.