Studi dan Pelatihan Pengembangan Kapasitas Teknis dan Kelembagaan

1. Pelatihan dasar dan studi banding sistem pengelolaan sampah di Jakarta dan singapura

Merujuk Peraturan Pemerintah RI nomor 81 tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga bahwa Setiap orang wajib melakukan pengurangan sampah dan penanganan sampah. Berdasarkan catatan KLHK, saat ¡ni diperkirakan timbulan sampah secara nasional mencapai 200.000 ton/hari atau setara 73 juta ton/tahun. Kebanyakan sampah dikirim ke TPA, sehingga sekitar 60% TPA di Indonesia mencapai batas kapasitas maksimum pada tahun 2015 (Anih Suryani, 2017).

Sekilas tentang pengelolaan sampah pada umumnya di Indonesia, sampah diangkut dari rumah/pasar/kawasan dengan menggunakan gerobak / gerobak motor untuk dibawa ke TPS dan selanjutnya diangkut ke TPA dengan menggunakan truk. Jadi dapat dikatakan jantung pengelolaan sampah kota-kota di Indonesia adalah TPA, dengan demikian, untuk kota-kota metropolitan dengan jumlah sampah yang luar biasa besar (jakarta misalnya 7000 ton/hari) perlu ada alternatif pemrosesan akhir sampah, sehingga beban TPA dapat dikurangi. Alternatif penggunaan insinerator yang teknologinya sudah terbukti dapat diandalkan, dapat mengurangi volume sampah hingga 90%, tidak membutuhkan lahan terlalu luas (4 hektar untuk kapasitas 1000 ton sampah/hari dibandingkan dengan 25 hektar jika menggunakan teknologi landfill), dan dapat dioperasikan dekat dengan sumber sampah untuk mengurangi biaya transportasi adalah salah satu opsi yang sangat perlu dipertimbangkan, terlebih pra FS untuk fasilitas insinerator Jakarta sudah ada sejak 1987. Namun sayangnya sampai saat ini, teknologi insinerator ini masih menimbulkan pro dan kontra karena bersumber dari ketidaktahuan, sehingga perlu edukasi menyeluruh tentang pengelolaan sampah kota dengan menggunakan teknologi incinerator ini.

Salah satu cara mempercepat proses belajar tersebut adalah berkunjung ke negara yang sudah memiliki sistem pengelolaan sampah yang benar dan menggunakan teknologi insinerator, sehingga dengan melihat dan belajar langsung dari pelaku pengelolaan sampah di negara tersebut diharapkan peserta akan dapat berinovasi dengan kebijakan dan mengawal pengelolaan sampah di Indonesia dengan standar yang benar. Negara tujuan pelatihan ini adalah Singapura, negara ini memiliki kemiripan seperti kota Jakarta dan sudah sangat maju dalam penggunaan teknologi insineratornya untuk mengelola sampah kotanya.

 

2. Studi Lapangan solusi alternatif pengelolaan sampah

Studi Lapangan merupakan salah satu pendekatan yang dilakukan oleh InSWA untuk menjangkau masyarakat. Masyarakat tertarik mempelajari mengenai sampah, tentang kondisi terkini dari pengelolaan sampah, melalui keterlibatan masyarakat mereka secara langsung dan melihat fasilitas-fasilitas tertentu dari pengelolahan sampah. Melalui pelatihan ini InSWA menyelenggarakan wisata dua hari ke TPA terbesar di Indonesia, yaitu TPA Bantargebang di Bekasi, diikuti dengan belajar bagaimana membuat kompos rumah tangga di lingkungan yang bagus di Jakarta Selatan. Waste Tour juga memfasilitasi kunjungan ke pabrik plastik yang telah menerapkan teknologi plastik yang mudah terurai, serta mempelajari pengetahuan dasar plastik dari para ahli di Sentra Teknologi Polimer.

 

 

3. Pelatihan 3R (reduce, reuse, recycle) dan sistem pengelolaan sampah

Dalam rangka membangun sistem dan kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sampah adalah melalui pelatihan kepada masyarakat. InSWA bekerjasama dengan berbagai institusi telah melaksanakan training materi dasar pengelolaan yang bertujuan untuk :

  • Menanamkam budaya hidup bersih kepada masyarakat melalui pemahaman tentang manfaat pengelolaan sampah dan efek sosial yang ditimbulkan
  • Memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai “bijak kelola sampah”
  • Memberikan pelatihan praktis tentang pengolahan sampah

 

Adapun materi yang diajarkan antara lain :

  1. Sampahku tanggung jawabku (Pengetahuan dasar tentang apa itu sampah dan bagaimana cara mengelolanya)
  2. Teori dasar dan simulasi pengelolaan bank sampah ditinjau dari lima aspek pengelolaan sampah
  3. Teori dasar pengomposan
  4. Teori pembuatan kerajinan tangan daur ulang
  5. Teori pembuatan kertas daur ulang

 

Pelatihan yang telah dilaksanakan

  1. PT. Pertamina Hulu Energy North and West Java ( PHE ONWJ) – Th. 2015, 2016, 2018
  2. Komunitas Hijau Superindo Bandung – Th. 2016
  3. PT. Pembangkitan Jawa Bali UP Muara karang -Th 2015 – 2016
  4. Superindo Berkebun Bekasi dan Ciputat – Th 2018
  5. Kasir Superindo Jabodetabek – Th 2017 – 2018
  6. Komunitas KSM Kota Bogor – Th 2016
  7. Sekolah Alam Cikeas –  Th. 2014, 2015, 2016, 2017, 2018
  8. Sekolah Alam Bintaro – Th. 2017
  9. SD Pangudi luhur Jakarta – Th. 2018
  10. SMP Noah – Th 2017, 2018
  11. SD Green Mntessory Jakarta, Th 2018
  12. Binus School Jakarta, Th 2018

 

4. Outreach dan peningkatan kapasitas dengan Global Methane Initiative (GMI) – USEPA

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008, pada tahun 2013 tempat pembuangan sampah di Indonesia dilarang menggunakan pembuangan terbuka. Sejak awal tahun 2011, InSWA telah bekerjasama dengan GMI-USEPA untuk fokus pada program pengurangan gas metana di TPA. Oleh Karena itu, GMI dan InSWA telah sepakat untuk mendukung penerapan sanitary landfill sebagai kunci untuk mengurangi gas metana serta untuk perlindungan bagi lingkungan.

Melalui serangkaian pertemuan, InSWA telah mendukung GMI dengan data dan status terbaru dari program TPA, akses dan koordinasi dengan Kementerian, dan membantu selama kunjungan lapangan ke beberapa tempat pembuangan sampah di Indonesia. InSWA juga aktif terlibat dalam Pertemuan Sub-komite TPA GMI di Krakov, Polandia, dan juga yang baru saja diselenggarakan di Singapura.

Sebagai bagian dari Asia Pacific Roundtable for Sustainable Consumption and Production (APRSCP) di Yogyakarta pada November 2011, GMI-USEPA telah memulai untuk menyebarkan programnya di Indonesia. Outreach terus berlanjut sampai baru-baru ini dilakukan lokakarya “Landfill Improvement Management” di Jakarta. Lokakarya ini diselenggarakan dan didanai oleh Kementerian Pekerjaan Umum, InSWA dan USEPA, dihadiri oleh wakil-wakil yang dipilih dari 17 Pemerintah Daerah. Topik utama dari lokakarya ini adalah operasional dasar sanitary landfill yang berfokus pada pengalaman yang dipresentasikan oleh seorang manajer TPA di Elkland, Maryland, Amerika Serikat.

Tahun : 2011 – beberapa tahun ke depan
Lokasi : Jakarta (Tingkat Nasional)
Pihak yang terlibat :

1. GMI- USEPA
2. SCS Engineers
3. PT. Osana International
4. Kementerian Pekerjaan Umum
5. Kementerian Lingkungan Hidup
6. 17 Pemerintah Daerah

One thought on “Studi dan Pelatihan Pengembangan Kapasitas Teknis dan Kelembagaan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Clean First