Dec 05

Fenomena Sampah Plastik di Indonesia

http://inswa.or.id/wp-content/uploads/2013/12/Sampah-plastik.png

Kantong plastik menjadi isu pembicaraan penting akhir-akhir ini di dunia pengelolaan sampah. Harganya yang murah, gampang ditemukan, dan mudah digunakan membuat kantong plastik telah menjadi bagian dari hidup manusia. Hampir semua kemasan makanan dan pembungkus barang dan makanan menggunakan plastik dan kantong plastik. Belum lagi plastik untuk kebutuhan lain seperti peralatan dan perabotan rumah tangga, mainan anak-anak, alat olahraga, peralatan elektronik maupun medis, dan sebagainya.

Plastik baru secara luas dikembangkan dan digunakan sejak abad ke-20. Namun  penggunaannya berkembang secara luar biasa dari hanya beberapa ratus ton pada tahun 1930-an, menjadi 150 juta ton/tahun pada tahun 1990-an dan 220 juta ton/tahun pada tahun 2005. Plastik menjadi primadona karena beberapa sifatnya yang istimewa yakni, mudah dibentuk sesuai dengan kebutuhan; bobotnya ringan sehingga bisa menghemat biaya transportasi; tahan lama; aman dari kontaminasi kimia, air dan dampaknya; aman sebagai kemasan barang maupun makanan; dan tahan terhadap cuaca dan suhu yang berubah; dan yang lebih penting lagi adalah harganya murah.

Fenomena booming sampah plastik telah menjadi momok yang menakutkan di setiap belahan bumi. Tidak saja di negara-negara berkembang tetapi juga di negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, dan Jepang. Saat ini penggunaan material plastik di negara-negara Eropa Barat mencapai 60kg/orang/tahun, di Amerika Serikat mencapai 80kg/orang/tahun, sementara di India hanya 2kg/orang/tahun.

Akibat sampah plastik yang memerlukan ratusan bahkan ribuan tahun untuk terurai kembali ke bumi, 57 persen sampah yang ditemukan di pantai berupa sampah plastik. Sebanyak 46 ribu sampah plastik mengapung di setiap mil persegi samudera bahkan kedalaman sampah plastik di samudera pasifik sudah mencapai hamper 100 meter. Bahkan menurut catatan lebih dari 1 juta burung dan 100 ribu binatang laut

Di Indonesia, menurut data statistik persampahan domestik Indonesia, jenis sampah plastik menduduki peringkat kedua sebesar 5.4 juta ton per tahun atau 14 persen dari total produksi sampah. Dengan demikian, plastik telah mampu menggeser sampah jenis kertas yang tadinya di peringkat kedua menjadi peringkat ketiga dengan jumlah 3.6 juta ton per tahun atau 9 persen dari jumlah total produksi sampah.

Menurut laporan Environmental Protection Agency (EPA) US, di Amerika saja, produksi sampah plastik meningkat dari kurang dari satu persen pada tahun 1960 menjadi 12 persen atau sekitar 30 juta ton pada 2008 dari jumlah total produksi sampah domestik negara ini. Kategori sampah plastik yang terbesar berasal dari kemasan dan wadah seperti; botol minuman, tutup botol, botol sampo dan lainnya. Jenis sampah plastik juga ditemukan pada jenis barang plastik yang penggunaanya bertahan lama seperti pada peralatan perlengkapan dan perabotan, dan barang plastik yang penggunaannya tidak bertahan lama seperti, diaper, kantong plastik, cangkir sekali pakai, perkakas, dan perlengkapan medis.

Sementara itu, Inggris memproduksi sedikitnya 3 juta ton sampah plastik setiap tahun. Sebanyak 56 persen dari jumlah tersebut berasal dari kemasan, dan 75 persen (dari persentase kemasan) berasal dari sampah rumah tangga. Sampah kantong plastik yang dihasilkan oleh Kota Jakarta saja dalam sehari mencapai 1.000 ton. Sampai saat ini belum ada pengelolaan khusus sampah plastik di tingkat kota. Namun pemulung memiliki peran yang sangat penting dalam mata rantai daur ulang sampah plastik yang dilakukan secara informal.

Namun seiring dengan produksi plastik yang meningkat tajam dari tahun ke tahun, kemampuan mendaur ulang Amerika juga menunjukkan kondisi yang sangat memuaskan. Saat ini, 80 persen masyarakat di sana telah memiliki akses pada kegiatan daur ulang plastik. Ini seiring pertumbuhan bisnis daur ulang yang meningkat, tercatat lebih 1.600 unit usaha terlibat  dalam daur ulang plastik sehingga berbagai jenis plastik bisa didaur ulang.

Selain memperkenalkan kegiatan daur ulang plastik, ilmuwan juga terus dipicu untuk bisa mencari alternatif lain bahan pengganti plastik konvensional.  Maka saat ini mulailah diperkenalkan plastik ramah lingkungan, degradable plastic, biodegradable plastic, atau bio plastik di tengah masyarakat. Di Jakarta, tiga produsen baru-baru ini memperkenalkan dirinya memproduksi plastik ramah lingkungan di Indonesia. Ketiganya memiliki produk yang berbeda tapi fokus produknya sama yakni, menyediakan alternatif kantong dan kemasan plastik yang ramah lingkungan.(InSWA)

Nov 28

`Warga DKI Mulai Berubah, Buang Sampah Sembarangan Berkurang`

`Warga DKI Mulai Berubah, Buang Sampah Sembarangan Berkurang`Jakarta : Kepala Dinas Kebersihan Unu Nurdin mengklaim saat ini sudah terlihat perubahan di masyarakat terkait kebiasaan buang sampah. Menurut dia, warga sudah mulai sadar untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat.

“Perubahan dari masyarakat, tidak banyak lagi yang buang sampah sembarangan. Tapi kalau tidak dikendalikan ya tetap saja,” ujar Unu kepada wartawan

Ia memberi contoh sampah di pintu air Manggarai yang tadinya 40-50 ton per hari, terus-menerus berkurang sejak 23 Juli lalu hingga sekarang. Bahkan dulunya, pernah mencapai 620 ton sampah. Sebab di lokasi tersebut disediakan 2 eskavator dan 1 truk untuk mengangkut sampah dari sungai.

“Tapi sebenarnya yang paling pokok masalah sampah bukan soal pengerjaan teknis, melainkan perilaku dan persepsi masyarakat. Mereka beranggapan, sungai itu sebagai tong sampah besar, habisnya begitu,” kata Unu.

Hanya memang diperlukan keseimbangan antara pembinaan perilaku buang sampah warga dengan pembenahan fasilitas di Jakarta. Maka, pihaknya terus berupaya meningkatkan program-program pengelolaan sampah. Seperti peremajaan sarana dan prasarana 92 kendaraan pengangkut sampah. Dari 732 truk, ada sekitar 506 kendaraan yang sudah berusia 10-35 tahun yang perlu diperbaharui.

“Kita juga punya aturan pengadaan tong sampah di kelurahan dan kecamatan. Dinas Kebersihan hanya sediakan truk dan kontainer, sementara gerobak sampah dari kelurahan dan kecamatan. Anggaran kebersihan tahun ini sekitar Rp 800 miliar, termasuk pengadaan truk sampah,” ujar Unu. (Ism)

Sumber : Liputan6.com

Nov 27

Pemprov DKI Segera Keluarkan Pergub Insentif Pengelolaan Sampah


Jakarta – Peraturan Daerah (Perda) No 3 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah DKI Jakarta mengatur pemberian insentif bagi warga yang mengelola sampah sendiri di lingkungannya. Untuk mendongkrak motivasi warga, Dinas Kebersihan DKI telah meminta agar pemberian insentif tersebut bisa diatur melalui Peraturan Gubernur (Pergub).

Kepala Dinas Kebersihan DKI Unu Nurdin mengatakan, warga yang mengelola sampah sendiri di lingkungannya tanpa perlu dibuang ke Tempat Pengelolaan Sampah akan menghemat anggaran. Pasalnya, untuk pengangkutan hingga pengiriman sampah ke TPST Bantar Gebang, menghabiskan anggaran hingga Rp 300 ribu per ton sampah.

“Kalau masyarakat sudah dapat mengelola sampah dengan bagus, maka dapat melakukan penghematan hingga sebesar Rp 250 ribu per ton sampah. Sampah yang dibuang ke Bantar Gebang kan berkurang. Hal ini menguntungkan masyarakat. Jadi perlu kita kasih insentif untuk mereka,” kata Unu di Balaikota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (26/11/2013).

Sebelumnya, Unu mengadakan acara Sarasehan dan Aksi Kali Bersih Masyarakat Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung di Kelurahan Kebon Manggis, Jakarta Timur.

Unu mengaku kini Pergub tersebut tengah dikaji lebih jauh. Pergub tersebut kini sudah diserahkan kepada Biro Hukum DKI.

“Pergubnya sudah digodok oleh kami. Tinggal nanti diedit dari aspek hukumnya. Kapan diterbitkannya, tanya saja biro hukum,” ujar Unu.

“Saya berharap perda ini mendorong warga berpartisipasi mengolah sampah Jakarta. Kami juga berharap ada inisiatif perusahaan-perusahaan di Jakarta,” tambahnya.

Sumber : Detiknews

Nov 23

Rahasia Pengurangan Sampah di TPST Rawasari

Tidak bau dan tidak kotor, demikian kesan pertama seti ap kali tamu datang mengunjungi Tempat Pengolahan  Sampah Terpadu (TPST) Rawasari, Jakarta Pusat. Tidak ada yang menutup hidungnya, bahkan makan dan minum tiada canggung. Tidak sombong, hampir setiap hari TPST Rawasari ini kedatangan tamu, tidak saja dari dalam negeri namun tamu-tamu mancanegara pun hadir tak henti-hentinya ingin melihat langsung ‘keajaiban’ yang terjadi pada sampah yang kita kenal bau dan busuk tersebut. Sebut saja tamu mancanegara yang pernah diterima di TPST ini berasal dari Cina, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, Itali, Kolombia, Jepang,, dan lainnya.

Letak TPST ini berada di lingkungan pemukiman warga yang lumayan padat, tepatnya warga RW 01 dan RW 02 Kelurahan Cempaka Putih Timur.  Berdampingan langsung dengan kantor pemadam kebakaran, sekolah, Kantor Camat Cempaka Putih, pasar, Kantor Suku Dinas Kebersihan Jakarta Pusat, dan kantor-kantor lainnya. Jadi TPST ini memang berlokasi di lingkungan yang ramai dan hidup 24 jam. Tapi sampai saat ini belum ada dampak sosial negatif yang ditimbulkan. Artinya, TPST ini bisa diterima secara sosial di lingkungan pemukiman, tidak ada unjuk rasa warga, tidak ada keberatan sama-sekali dari berbagai elemen masyarakat setempat.

Ini adalah kondisi ideal yang diharapkan pada pengelolaan sampah domestik tidak saja di Indonesia, namun di seluruh dunia. Pengurangan di tingkat masyarakat dikenal juga dengan istilah pengurangan dari sumbernya, merupakan cita-cita yang hendak dicapai oleh Indonesia dalam mengatasi permasalahan sampah domestik. Bayangkan, saat ini Indonesia menghasilkan sampah domestik (sampah yang berasal dari rumah tangga) sebesar 167 ribu ton per hari (KLH, 2008).

Padahal, 65 persen dari komposisi sampah itu adalah sampah yang mudah membusuk atau lebih dikenal dengan sampah organik yang sebenarnya sangat berpotensi untuk dikurangi melalui pengomposan. Jadi yang bakal menuhin TPA cuma sampah-sampah yang benar-benar tidak bisa di-treatment lagi, hanya sekitar 10 persen.

TPST Percontohan

Untuk di Jakarta, TPST Rawasari merupakan TPST percontohan untuk pengurangan sampah dari sumbernya melalui kegiatan pengomposan, sekaligus bisa diterapkan di kawasan padat penduduk. TPST ini dibangun pada tahun 2000 dan awalnya dikelola oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Namun, sejak tahun 2009 TPST Rawasari dpindahtangankan ke Dinas Kebersihan DKI Jakarta. TPST Rawasari saat ini dibawah supervisi Indonesia Solid Waste Association (InSWA).

Sejalan dengan amanat Undang-undang No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan peraturan turunannya yakni PP No 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sejenis Sampah Rumah Tangga, TPST adalah tempat dilaksanakannya kegiatan pengumpulan, pemilahan, maka itu TPST Rawasari tidak saja melakukan upaya pengomposan namun mengintegrasikan kegiatan 3R lainnya. Contohnya saat ini TPST Rawasari juga sebagai dropping point (lokasi titik pengumpulan) sampah polystyrene atau lebih dikenal dengan sampah styrofoam. Kegiatan ini bekerjasama dengan BPLHD DKI Jakarta. Dropbox (kotak pengumpulan) akan ditempatkan di beberapa lokasi seperti perkantoran dan pemukiman yang selanjutnya dalam jangka waktu tertentu akan diangkut ke TPST dan ke pabrik daur ulang styrofoam.

Nov 11

Pengolahan Sampah di TPA Perlu Dana Besar

Nov 11

Satu Dekade InSWA untuk Indonesia

Pada tanggal 28 Oktober 2013 InSWA memperingati hari jadinya yang ke-10, acara yang diselenggarakan di TPST Rawasari ini berlangsung cukup sederhana namun tetap hikmat dan dihadiri oleh para  pejabat dari Instansi terkait seperti Asbang lingkungan hidup Jakarta Pusat, Wakil dari Dinas kebersihan Provinsi DKI Jakarta, Sudin Kebersihan Jakarta Pusat, para pengusaha mitra InSWA, Pejabat setempat, para anggota InSWA dan para penggiat lingkungan. Dalam sambutannya ketua umum InSWA Ibu Ir. Sri Bebassari,MSi. Mengajak kita semua untuk terus tetap semangat meningkatkan kepedulian kita terhadap kebersihan agar tercipta lingkungan yang bersih sehat dan nyaman, karena lingkungan yang bersih juga merupakan asset berharga bagi kita semua.

Dalam acara tersebut InSWA  sekaligus melakukan launching majalah KELOPAK setelah sebelumnya secara rutin menerbitkan Indonesia Solid Waste Newsletter. Majalah KELOPAK  merupakan salah satu majalah tentang kebersihan dan lingkungan terkait persampahan dengan tagline Sumber Informasi Kelola Sampah Dengan Bijak, dengan harapan dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat dalam memberikan informasi tentang persampahan dan pengelolaanya.

Dengan ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Ketua umum dan Wakil ketua umum InSWA serta dengan dilanjutkan pembacaan Do’a InSWA berharap untuk terus bekerjasama dengan Instansi terkait dan para mitra InSWA serta masyarakat untuk membangun system di masyarakat yang lebih peduli dan produktif dalam mengelola sampah

“Selamat Ulang Tahun InSWA yang ke-10 Semoga sukses untuk Indonesia yang lebih bersih dan sehat”

Nov 11

Dinas Kebersihan DKI Jakarta Gelar Pelatihan Tenaga Fasilitator Lapangan 3R dan Bank Sampah

Pada tanggal 7-9 Oktober 2013 Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta menggelar Pelatihan Tenaga Fasilitator Lapangan 3R dan Bank sampah di Wisma PPPPTK bisnis dan Pariwisata, Sawangan Depok Jawa barat. Pelatihan yang diikuti kader-kader kebersihan dari 5 wilayah se-DKI Jakarta ini dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Bp. H. Drs Unu Nurdin MSi. Dalam sambutannya beliau mengatakan, untuk mengatasi persoalan sampah di Ibu Kota memang menuntut keterlibatan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder), termasuk masyarakat. “Salah satunya, penyediaan fasilitas pemilahan sampah (3R). Aktifitas ini bertujuan diantaranya untuk mengambil manfaat ekonomi dari sampah. Implementasinya dapat dikelola dalam bentuk Bank Sampah di lingkungan sekitar tempat tinggal warga,” kata dia.

Beliau juga berseloroh dengan menanyakan kepada Peserta Pelatihan tentang supermarket terpanjang dan terbesar di Jakarta dan menyebutkan sungai Ciliwung lah Jawabannya, disana apapun ada, dari sepatu, kertas bekas sampai kasur, hal ini membuktikan bahwa kesadaran masyarakat akan lingkungan masih rendah, karena hampir semua orang tahu bahwa sampah yang dibuang ke sungai dapat mengakibatkan sumbatan arus sungai sehingga air sungai meluap dan terjadilah banjir.

Menurut Unu, pengolahan sampah secanggih apapun di Tempat Pengolahan Akhir (TPA) akan berkurang efektifitasnya, jika sampah tidak dikelola sejak dari sumber. “Melalui Program 3R kita budayakan warga untuk melakukan pemilahan dan pengumpulan sampah, sehingga sampah yang masih mempunyai nilai ekonomis dan bermanfaat dapat didayagunakan,” katanya, Berdasarkan ketentuan Pasal 22 UU 18/2008, kata Unu, secara tegas mengamanatkan kegiatan penanganan sampah melalui Program 3R, yang terdiri dari pengurangan sampah (reduce), penggunaan kembali (reuse), dan pendaurulangan sampah (recycle)

 Dalam pelatihan ini para peserta pelatihan diajarkan berbagai materi terkait persampahan antara lain tentang jenis-jenis plastic, sifat-sifat plastic dan bahayanya, praktek pembuatan bio activator, mengolah sampah plastic menjadi bahan bakar alternative, pembuatan kertas daur ulang dan juga pengenalan struktur tanah dan cara bercocok tanam, hal ini dimaksudkan supaya para fasilitator nantinya dapat menerapkan hal-hal yang telah dipelajari tersebut di dan membagikan pengetahuannya kepada warga masyarakat sehingga diharapkan akan lebih meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan dan bagaimana cara mengelola dan memanfaatkan sampah  dengan baik.

Sep 30

15 Kepala Daerah Berguru Pengelolaan Sampah di Malang

http://surabaya.tribunnews.com/foto/bank/images/1209tps-sampah.jpg

SURYA Online, MALANG – Sebanyak 15 kepala daerah melakukan kunjungan ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) di Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Kamis (12/9/2013). Mereka berasal Kabupaten Bima, Kabupaten Bangka Barat serta kota/kabupaten lain dari luar Pulau Jawa.
F Supadi, Ketua KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) TPST Mulyoagung Bersatu kemudian mengajak tamunya berkeliling melihat semua proses di TPST. Menurutnya, setiap hari ada 45 meter kubik sampah masuk ke TPST itu. “Kalau hari Senin, volume sampahnya malah bisa meningkat hingga 55 meter kubik,” kata pria yang bekerja sebagai staf di Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang ini.
Begitu masuk, sampah langsung masuk ke zona I dan kemudian dipilah-pilah sampah organik, anorganik hingga residunya. Setelah sampah masuk zona 1, dan dipilah-pilah kemudian masuk ke zona lain. Sedangkan untuk limbah nasi dikumpulkan. Hasilnya setiap bulan, TPST dapat pemasukan Rp 3,5 juta. “Untuk limbah nasi, sudah ada rekanan yang mengambil, yaitu peternak bebek,” tuturnya. Agar tidak sampai jadi lalat, belatung pun diambili untuk makanan ikan lele dan nila yang dipelihara di kolam depan TPST.
Sedang dari limbah kaca, per bulan bisa didapat sebanyak 8 ton. Limbah itu juga sudah ada yang mengambilnya.
Sampah juga dikelola jadi pupuk organik yang menghasilkan 2 ton per bulan.
Menurut Supadi, pria kelahiran Sleman ini, sampah yang masuk hari ini dibersihkan satu hari ini juga karena esok hari pasti ada sampah baru yang datang.

Sumber:

Sep 30

Inswa Desak Jokowi Umumkan Pemenang Lelang ITF Sunter

Jakarta, GATRAnews – Indonesia Solid Waste Association (Inswa) mendesak Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo segera menentukan pemenang lelang Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter. Mereka berharapkan, pemenang lelang diumumkan bulan ini sesuai dengan janji pemprov di berbagai media masa bebarapa waktu lalu. “Saya berharap, statement Pak Jokowi di beberapa media, yang menyatakan akan menentukan pemenang bulan ini segera diwujudkan. Karena kebutuhan pengolahan sampah dalam kota sudah sangat mendesak sekali,” terang Ketua Inswa, Sri Bebassari, Rabu (18/9) di Jakarta.

 

Kota Jakarta, sebagai ibu kota negara, seharusnya sudah memiliki tempat pengolahan sampah sendiri tanpa bergantung pada daerah lain. Seperti yang selama ini dilakukan Pemprov DKI, membuang sampah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi. Dalam kontrak kerja sama dengan PT Godang Tua Jaya selaku pengelola TPST Bantargebang, volume sampah yang dikirim Pemprov DKI Jakarta pada tahun 2013 hanya 3 ribu ton per hari saja. Tetapi hingga hari ini, volume sampah yang dikirim ke Bekasi masih mencapai 5.700 ton per hari.

 

“DKI harus punya tempat pengolahan sampah atau WC untuk sampah tersendiri di dalam kotanya. Ini sesuai dengan kontrak yang dilakukan bersama TPST Bantar Gebang. Kalau tidak salah pada tahun 2013 ini, sampah yang dikirim berkurang menjadi 3 ribu ton per hari. Tapi sekarang masih 5.700 ton per hari. Karena belum ada satu pun ITF yang dibangun dan beroperasi oleh DKI,” ujarnya.

 

Karena itu, Sri mengharapkan Jokowi dapat menetapkan pemenang lelang ITF Sunter secepatnya. Sehingga pembangunan ITF Sunter dapat segera dilakukan. Pembangunan diperkirakan akan memakan waktu dua tahun, lalu pada tahun ketiga ITF Sunter baru dapat dioperasikan untuk menerima dan mengolah sampah Jakarta. “Pembangunannya memang butuh dua tahun. Tahun ketiga baru mulai operasional. Jadi baru dua tahun lagi kita bisa mengurangi volume sampah di Bantargebang,” tuturnya.

 

Bila Pemprov DKI membangun, maka ITF Sunter akan menjadi tempat pengolahan sampah dalam kota pertama di Indonesia. Selama ini, seluruh pemerintah provinsi dan pengusaha di Indonesia tengah melihat keberhasilan DKI membangun ITF. Jika berhasil, maka mereka akan mencontoh penerapan bisnis sampah dengan membangun ITF di daerahnya masing-masing. “Kalau sampai DKI membangun ITF ini, maka akan menjadi pertama di Indonesia. Dan mimpi saya selama 33 tahun bahwa DKI punya pengolahan sampah sendiri terwujud sudah,” harapnya.

Selain itu, dengan beroperasinya ITF Sunter, lanjutnya, maka biaya transportasi sekitar Rp 200.000 per ton sampah dan biaya tiping fee sebesar Rp 114.000 per ton sampah dapat dialihkan ke ITF Sunter. Terkait dengan volume sampah berdasarkan kontrak antara Pemprov DKI Jakarta dengan PT Godang Tua Jaya jo PT Navigat pada tahun 2013 harus 3 ribu ton per hari, anggota Komisi D DPRD DKI Boy Ali Sadikin menengarai Jokowi dan Kepala Dinas Kebersihan DKI Unu Nurdin tidak mengetahui isi kontrak tersebut. “Jangan-jangan Gubernur belum tahu kontrak tersebut. Atau Kepala Dinas Kebersihan DKI tidak pernah melaporkannya ke Jokowi,” ujarnya.

Sementara itu terkait pembangunan ITF Sunter, Ketua Panitia Lelang ITF Sunter Budhi Karya Irwanto mengatakan, penentuan pemenang lelang ITF Sunter belum bisa dilakukan karena pihaknya harus menunggu rekomendasi dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) serta Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Pihaknya juga menyusun tiga dokumen, yaitu; dokumen evaluasi pelaksanaan proses lelang, dokumen teknis dan dokumen harga. Ketiga dokumen itu sudah dilaporkan kepada Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Gubernur akan memutuskan pemenang lelang yang memenuhi kriteria membangun ITF Sunter. Seperti diketahui, ITF akan menggunakan teknologi thermal untuk incenerator yang sudah terbukti di seluruh dunia. ITF Sunter direncanakan memiliki kapasitas pengelolaan sampah 1.000 ton perhari. (*/Zak) 

Sumber :

http://www.gatra.com/nusantara-1/jawa-1/39051-inswa-desak-jokowi-umumkan-pemenang-lelang-itf.html

 

Sep 02

Selamat Jalan Bpk. G.L.K Meng

http://inswa.or.id/wp-content/uploads/2013/09/DSC_0926.jpg

Pada tanggal 15 Agustus 2013 saat kita tengah mempersiapkan untuk memperingati Hari kemerdekaan RI, bersama itu pula salah satu pendiri Indonesia Solid Waste Asociation (InSWA) yang juga menjabat sebagai Bendahara umum, Bapak Goei Lie Kaw Meng telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya.

Bapak Goei Lie Kaw Meng terlahir di kota Medan-Sumatera Utara 54 tahun yang silam, tepatnya pada tanggal 17 Februari 1959. Selain di InSWA almarhum juga merupakan salah satu pendiri Yayasan Pusat Pengembangan Riset Sampah Indonesia (PERISAI) dan Indonesia Waste Forum (IWF) dan aktivis di Yayasan Buddha Tzu Chi yang memilih bagian Daur Ulang, hal ini dilakukan karena keinginan dan kepedulian Beliau akan lingkungan yang begitu kuat. Kebiasaan Bapak Goei Lie Kaw Meng dalam mengatasi permasalahan lingkungan juga diterapkan dalam kehidupan kesehariannya di kantor yang Beliau pimpin dan tidak henti-hentinya mempengaruhi dan menganjurkan kepada teman-teman, kerabat dan orang-orang di sekitarnya untuk terus peduli terhadap lingkungan. Bahkan beliau melayani penerimaan material daur ulang untuk dikelola di Tempat Daur Ulang Mangga Dua Square.

Bapak Goei Lie Kaw Meng juga mengaplikasikan ide-idenya melalui kerjasama dengan pihak penelitian seperti BPPT, LIPI dan MEPPO-BPPT dalam pengembangan produk di perusahaan yang dipimpinnya yaitu PT Saptakrida Karyamas. Dengan berlandaskan pemahaman akan pentingnya pelestarian lingkungan, maka kerjasama telah dilangsungkan pada tahun 2011 untuk mengembangkan generator (pembangkit listrik) yang ramah lingkungan dan tidak menghasilkan suara bising.

Pada tanggal 28 Oktober 2003, Bapak Goei Lie Kaw Meng bersama dengan rekan-rekannya yang memiliki semangat yang sama yaitu Ibu Sri Bebassari dan Bp. Soly Desely mendirikan Asosiasi Persampahan Indonesia (InSWA) sebuah organisasi non profit yang bergerak di bidang lingkungan khususnya persampahan dengan tujuan untuk dapat bersama-sama saling membantu dengan pihak-pihak terkait permasalahan persampahan sehingga manfaat sosio-lingkungan-nya dapat menjangkau lebih banyak orang. Selain itu Bapak Goei Lie Kaw Meng juga membangun kerjasama dengan pihak swasta dan pemerintah untuk bersama-sama menggodok permasalahan lingkungan menjadi perhatian bersama demi masa depan lingkungan masyarakat luas yang lebih bersih sehat dan nyaman. Dengan memperhatikan aspek-aspek hukum, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat Indonesia, Bapak Goei Lie Kaw Meng juga berkiprah di berbagai kegiatan seminar dan program yang berkaitan dengan lingkungan dan terjun langsung membantu di berbagai kegiatan aksi sosial di bidang lingkungan.

Kami, atas nama keluarga besar InSWA turut berduka cita yang sedalam-dalamnya, semoga amal bakti beliau semasa hidupnya diterima Tuhan yang maha esa

“Selamat jalan Pak Meng…, kami takkan pernah melupakanmu dan tetap semangat melanjutkan perjuanganmu untuk lingkungan yang lebih baik”

http://inswa.or.id/wp-content/uploads/2013/09/foto-2.jpg

Older posts «

» Newer posts