Pengurangan Sampah Plastik, Plastik Mudah Terurai, dan Labelisasi Produk Hijau

Oleh: Indonesia Solid Waste Association (InSWA)

Manusia dan sampah plastiknya
Bahwa setiap hari manusia menghasilkan sampah sudah tentu disadari oleh semua orang. Namun fakta bahwa 10-15% dari sampah yang dihasilkan tersebut adalah plastik, belum tentu disadari oleh setiap orang. Dalam sebuah laporan disebutkan, lebih dari 200 juta ton plastik diproduksi setiap tahun di seluruh dunia. Dari 200 juta ton, 26 juta ton diproduksi di Amerika Serikat. Di Indonesia, diperkirakan 15.000 ton lebih sampah plastik dihasilkan setiap hari.

Plastik memang sulit dipisahkan dari hidup manusia modern. Sejak diproduksi secara industri pada era 1930-an, plastik digunakan oleh setiap orang mulai sebagai pembungkus makanan, sikat gigi, alat rumah tangga, hingga mobil dan pesawat terbang. Melalui perkembangan teknologi, manusia semakin dimudahkan dan diyakinkan dengan berbagai keunggulan plastik baik dari segi kekuatan, keamanan, kebutuhan energi, dan higinitas.

Namun demikian, jumlah sampah plastik yang fantastis tentu menjadi masalah besar bagi lingkungan. Di Indonesia, Amerika Serikat, dan negara lain yang masih mengandalkan pemusnahan akhir sampah dengan landfill, tumpukan sampah plastik menjadi beban berat karena memerlukan puluhan bahkan ratusan tahun untuk terurai secara alamiah. Sampah plastik yang tidak terangkut ke landfill pun dapat mencemari air, menyebabkan banjir, dan merusak makhluk hidup didalam air.

Membatasi dan mendaur ulang sampah plastik
Sebagai konsumen plastik, tentu setiap orang memiliki tanggung jawab terhadap sampah plastik yang dihasilkannya. Salah satu caranya adalah dengan membatasi dan mendaur ulang sampah plastik.

Jika diperhatikan, sebagian besar sampah plastik yang kita buang adalah wadah bekas makanan dan minuman, kemasan pembersih (termasuk sabun, shampoo, detergen, dll), pembungkus, dan kantong sampah. Terkadang ada juga bekas mainan, dan alat tulis. Membatasi sampah plastik dapat dimulai dengan membiasakan membawa wadah makanan dan minuman sendiri, menggunakan sistem isi ulang (refill), dan membawa kantong belanja yang dapat dipakai berulang kali.

Jika plastik tidak dapat lagi dipakai ulang, mau tidak mau sampah plastik akan dibuang. Selain membuangnya tidak boleh sembarangan, ada lagi cara yang lebih bijak, yaitu memisahkannya dari sampah jenis lain sehingga lebih mudah untuk didaur ulang. Di Indonesia, daur ulang sampah plastik melibatkan para pemulung, yang tentu akan sangat terbantu jika sampah plastik sudah terpilah sejak di sumbernya.

Daur ulang plastik di Indonesia umumnya dilakukan dengan mencacah plastik menjadi bijih plastik dengan bantuan suhu tinggi dan mesin pencacah. Bijih plastik tersebut kemudian menjadi bahan baku dalam proses pembuatan produk plastik lain, misalnya ember, gayung, dan gagang sapu. Proses daur ulang plastik sangat bervariasi, tergantung jenisnya: PET, PE, atau PVC. Pasar daur ulang plastik juga bukan hanya untuk domestik, melainkan juga sudah merambah ke ekspor.

Selain berbasis industri, daur ulang plastik juga dapat dilakukan dalam skala rumah tangga. Dalam lima tahun terakhir, muncul inovasi-inovasi kerajinan dengan bahan baku sampah plastik. Sachet kopi, kemasan isi ulang, bahkan kantong keresek dapat disulap menjadi produk yang cukup trendi di tangan kreatif para pengrajin.

Meskipun terdengar ideal, membatasi dan mendaur ulang sampah plastik pada kenyataannya tidak mampu mengimbangi kecepatan timbulan sampah plastik yang dihasilkan. Kesadaran konsumen dan kesiapan sistem daur ulang dari hulu ke hilir membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk dapat berjalan dengan baik. Di Amerika Serikat, yang sistem daur ulangnya sudah jauh lebih siap saja, US-EPA pada tahun 2003 melaporkan bahwa hanya 5,8% dari 26 juta ton sampah plastik didaur ulang.

Plastik mudah terurai
Seperti telah disebutkan diatas, sifat sulit terurai oleh alam menjadi sumber masalah lingkungan yang disebabkan oleh material plastik. Struktur kimia plastik sebagai senyawa organik polymer terbentuk dari rantai karbon yang sangat kuat. Secara alamiah, untuk memecah rantai karbon tersebut membutuhkan waktu yang sangat panjang, hingga mencapai ratusan bahkan ribuan tahun. Saat terjadi longsornya TPA Leuwigajah di Bandung tahun 2005 yang lalu, ditemukan banyak sekali kantong plastik yang tetap utuh meski sudah terkubur selama puluhan tahun di landfill.

Hal inilah yang mendorong berbagai penelitian untuk membuat material plastik dapat lebih mudah terurai. Teknologi plastik mudah terurai sebenarnya telah dikembangkan sejak pertengahan 1990-an, dan memasuki era komersialisasi pada tahun 2000-an. Penelitian dan pengembangan terutama banyak dilakukan oleh negara USA

Secara umum, plastik mudah terurai yang ada di pasaran saat ini dapat dikelompokkan menjadi dua: (1) plastik yang berbahan dasar material terbarukan seperti pati (starch) singkong dan jagung, dan (2) plastik yang berbahan dasar seperti plastik konvensional – pertroleum – namun ditambahkan aditif.

Kelompok pertama sering disebut bio-degradable plastic atau bioplastic, yang penguraiannya disebabkan oleh kerja mikroorganisme alamiah yang timbul selama periode waktu tertentu (2 – 3 tahun di landfill). Sedangkan kelompok kedua mengalami penguraian signifikan yang dipicu oleh kondisi lingkungan seperti oksidasi akibat panas, sinar matahari, udara, dan kelembaban. Oleh karena itu, kelompok kedua sering juga disebut oxo-degradable plastic. Lama waktu penguraiannya tergantung dari seberapa banyak aditif yang ditambahkan pada proses produksinya.

Meski secara teknologi plastik mudah terurai bukan sesuatu yang baru, namun penggunaannya masih relatif sedikit akibat harga yang masih jauh lebih tinggi dibandingkan plastik konvensional. Hingga beberapa inovasi di dunia mulai mengembangkan formula oxo-degradable plastic yang harga jual produknya cukup bersaing dengan plastik konvensional. Beberapa inovasi teknologi juga membantu menurunkan harga komersial bio-degradable plastic, meskipun masih relatif lebih tinggi dibandingkan rekannya si oxo-degradable plastic.

Aplikasi plastik mudah terurai hingga saat ini meliputi beragam variasi perlengkapan manusia sehari-hari, mulai dari kantong plastik, peralatan makan, hingga penutup landfill. Kantong plastik merupakan aplikasi yang paling luas digunakan, terutama oleh pasar retail modern, sebagai media untuk meningkatkan green image kepada target konsumen mereka.

Pro-kontra dan salah kaprah seputar plastik mudah terurai
Sebagian kalangan ada yang mengatakan bahwa plastik mudah terurai bukan merupakan solusi, melainkan sekedar pengalihan masalah. Salah satunya adalah argumentasi bahwa material plastik, persisnya jenis yang oxo-degradable, memang rusak dan terurai lebih cepat, namun tidak sepenuhnya kembali ke alam. Hasil penguraian plastik jenis ini dianggap hanya memecah plastik menjadi serpihan kecil, namun belum tentu dapat dicerna oleh mikroorganisme untuk menjadi material alamiah, seperti halnya jenis yang bio-degradable.

Namun demikian, sebagian besar pengguna plastik oxo-degradable tetap menganggap plastik jenis ini masih lebih baik ketimbang plastik konvensional yang sering menyebabkan tersumbatnya saluran air dan menumpuk bertahun-tahun di landfill. Dengan kata lain, urgensi dampak lingkungan seperti banjir dan longsornya TPA masih menjadi prioritas sebagian konsumen. Selain itu, harganya yang relatif sama dengan plastik konvensional membuat plastik jenis ini memang semakin diminati.

Argumentasi lainnya adalah bahwa plastik mudah terurai, khususnya jenis yang bio-degradable, tetap memberikan kontribusi gas methan pada proses penguraiannya di landfill. Gas methan (CH4) adalah penyumbang gas rumah kaca atau pemanasan global yang lebih kuat 21 kali lipat dari gas karbondioksida (CO2). Proses penguraian plastik jenis ini di landfill memang berlangsung dalam kondisi anaerob, dimana bahan dasar plastik yang berasal dari pati tumbuhan dicerna oleh mikroorganisme sehingga menghasilkan biomassa dan gas methan.

Namun demikian, sebagian kalangan justru melihat potensi kontribusi pengembangan plastik jenis bio-degradable¬ ini pada hal yang positif, yaitu pemberdayaan petani. Di negara subtropis, jenis pati yang digunakan untuk bahan dasar plastik ini sebagian besar berasal dari jagung. Dalam skala komersial, harga produk plastik berbasis pati jagung ini menjadi sangat mahal, dan tersandung isu kompetisi dengan jagung sebagai bahan pangan. Berbeda halnya dengan di negara tropis, khususnya daerah khatulistiwa, yang kaya akan singkong dan sagu. Saat ini, pemanfaatan kedua jenis tanaman ini untuk produk pangan masih sangat sedikit ketimbang potensi yang dimilikinya. Oleh karenanya, sangat masuk akal jika diversifikasi produk berbasis kedua tanaman ini menjadi menjanjikan untuk dikembangkan di nusantara. Pemberdayaan petani untuk produksi plastik bio-degradable, bisa jadi merupakan potensi penyerapan tenaga kerja di tanah air ketimbang menjadi tenaga kerja non-formal di luar negeri.

Satu lagi argumentasi yang diungkapkan sebagian kalangan, khususnya para pelaku industri daur ulang, adalah menurunnya kualitas produk daur ulang yang menggunakan sampah plastik mudah terurai, terutama dalam hal kekuatan produk. Meskipun dari sudut pandang ilmu material kekhawatiran akan hal ini bisa dimengerti, namun dari sudut pandang lingkungan tentu saja hal ini sulit diterima, karena sama saja dengan mengusulkan solusi untuk kembali ke plastik konvensional.

Hal yang lebih penting dari pemahaman terhadap dari suatu aplikasi teknologi, tentu adalah perilaku yang tepat dalam penggunaannya. Konsumen tetap harus bijak dalam menggunakan plastik mudah terurai, karena tidak berarti ia dapat digunakan dan dibuang sembarangan, apalagi ke sungai atau badan air lainnya. Penguraian plastik di dalam air tetap berpotensi melepaskan zat yang dapat membahayakan makhluk hidup dan biota air.

Konsumen juga sebaiknya lebih kritis terhadap berbagai klaim produk yang menyatakan dirinya sebagai plastik ramah lingkungan, plastik mudah terurai, dlsb. Mengecek label produk adalah salah satu cara untuk mengetahui kesesuaian produk tersebut terhadap ketentuan yang berlaku. Bersikap kritis juga termasuk pada jargon pemasaran yang digunakan oleh produk. Warna produk yang hijau tidak selalu menjamin bahwa produk tersebut ramah lingkungan, misalnya. Istilah bio-degradable pun masih sering disalahtafsirkan untuk produk yang sebenarnya oxo-degradable. Bahkan ada yang juga mengklaim produknya adalah oxo-biodegradable. Kompetisi bisnis untuk merebut hati konsumen memang dapat berdampak pada kebingungan konsumen. Namun demikian, mulai sekarang sebaiknya konsumen lebih siap untuk menyikapinya, agar tidak hanya sekedar terpengaruh derasnya arus greenwashing.

Labelisasi produk hijau
Di Indonesia, sejak tiga tahun terakhir ini masyarakat semakin banyak menjumpai klaim plastik mudah terurai, khususnya untuk aplikasi kantong plastik. Pengguna terbesar, yaitu pasar retail modern, menyatakan memilih kantong plastik mudah terurai karena harganya yang tidak mahal dan sebagai upaya ikut mendukung program lingkungan.

Hal positif ini sayangnya belum dibarengi dengan kesiapan pemerintah untuk menyiapkan perangkat hukum dan kelembagaan pendukungnya. UU No. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, khususnya pasal 14, memang menyebutkan perlunya label terhadap produk atau kemasan sebagai instrumen informasi kepada konsumen mengenai pengurangan atau penanganan sampah produk atau kemasan tersebut. Namun demikian, ketentuan detil dan lembaga yang kompeten melakukan sertifikasi dan verifikasi terhadap produk yang ada di konsumen masih jauh dari siap.

InSWA, sebagai organisasi profesi yang bergerak di bidang persampahan, sejak tahun 2010 melaksanakan serangkaian kegiatan dalam rangka program Green Label Indonesia (GLI). GLI dilaksanakan melalui pemberian label untuk menunjukkan informasi kepada konsumen dan masyarakat luas tentang produk dan/atau kemasan plastik yang dapat mengalami proses perombakan dan atau penguraian di alam (plastik ramah lingkungan). Dalam proses pemberian label, InSWA menjadi pihak ketiga yang memberikan verifikasi terhadap produk plastik mudah terurai dengan bantuan tenaga ahli dari laboratorium pemerintah yaitu Sentra Teknologi Polimer – BPPT dan Bioteknologi – BPPT.

Hingga saat ini, terdapat 2 produk kantong plastik mudah terurai yang sudah memperoleh label yaitu Oxium dan Ecoplas. Oxium merupakan produk plastik oxo-degradable, sedangkan Ecoplas menggunakan pati dari singkong sebagai materi bahan baku plastik bio-degradable. Namun demikian, label yang diberikan bukan merupakan sesuatu yang memiliki landasan hukum, karena InSWA belum merupakan organisasi yang resmi ditunjuk pemerintah sebagai lembaga sertifikasi maupun verifikasi.

Selain pemberian label, penghargaan juga diberikan kepada para pengguna kantong plastik mudah terurai yang berbahan Oxium dan Ecoplas. Tahun 2010, penghargaan Gubernur DKI Jakarta dan InSWA diberikan kepada sejumlah 23 retailer, sedangkan tahun 2011 jumlah penerima penghargaan bertambah menjadi 28 retailer dan 5 converter. Di tahun 2011, aplikasi produk juga bertambah dengan lunch box berbasis poly-styrene yang berbasis Oxium.

Pencapaian ini memang masih jauh dari sasaran pengurangan sampah plastik yang ingin dicapai. Namun demikian, para pelaku bisnis dan masyarakat diharapkan dapat lebih termotivasi untuk lebih memilih menggunakan produk yang ramah lingkungan. Hal ini sangat erat kaitannya dengan pelaksanaan UU No. 18 Tahun 2008 khususnya pasal 15 yang menegaskan pentingnya tanggungjawab produsen paska konsumsi, atau Extended Producer Responsibility (EPR). Secara bertahap, diharapkan pemerintah juga dapat lebih mengimbangi kecepatan para pelaku industri dan pasar dalam merespon potensi bisnis yang ramah lingkungan, agar tercipta persaingan usaha yang sehat dan tetap mengutamakan edukasi dan perlindungan kepada konsumen.(InSWA)

Leave a Reply

Your email address will not be published.