Jun 10

“Ratu Sampah” : Masterplane Pengelolaan 2012-32 Solusi Atasi Sampah

Jakarta, HanTer – Usai memutuskan kontrak dengan para pengusaha sebagai operator sampah, Pemprov DKI Jakarta  tetap kewalahan menangani sampah di Ibukota. Manajemen pengangkutan sampah belum terbangun sehingga sampah masih berserakan bahkan hingga menggunung di sudut-sudut kota.

Sebenarnya lima tahun terakhir, DKI sudah melakukan  beberapa perbaikan, terbukti tahun lalu TPA Bantargebang terpilih menjadi TPA terbaik di penilaian Adipura dan empat Walikota mendapat Adipura. “Tapi tahun ini lepas semua. Jadi ada kemunduran,” kata Sri Bebassari, Ketua Umum Indonesia Solid Waste Association (InSWA) yang telah menjadi pemerhati sampah DKI  selama 35 tahun.

Sri menambahkan, saat ini TPA Bantargebang masih menjadi tumpuan utama untuk pengeloaan sampah di DKI. Oleh karena itu, semua pihak harus harus menjaga dan memeliharanya agar tetap bisa beroperasi.  “Tapi mungkin perlu didisain ulang karena kapasitas  sampahnya sudah tidak sesuai lagi dengan rencana di kontrak. Tahun 2014 DKI rencananya sudah punya “WC” sampah sendiri” di dalam kota sehinga sampah yang  yang diangkut ke TPA Bantargebang Bekasi sudah berkurang,” ujar wanita yang dijuluki “Ratu Sampah” ini.

Menurut Sri, salah satu rencana instalasi pengelolaan sampah di DKI adalah Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter yang sudah dilakukan proses tendernya dengan kapasitas 1000 ton per hari dengan teknologi Waste to Energy dengan hasil sampingan sekitar 12 MW per hari.

Direncanakan ada tiga ITF di dalam kota sehingga yang dibuang ke TPA Bantargebang Bekasi hanya sisanya sekitar 2000 ton per hari atau sekitar 30 % dari 6000 ton per hari.

Sri meminta agar permasalahan sampah di DKI sebaiknya menjalankan perencanaan yang sudah disusun konsultan dalam masterplan (rencana induk) pengelolaan sampah DKI 2012 hingga 2032.

Padahal, rencana induk itu sangat penting sebagai pedoman pemerintah mengatasi persoalan sampah yang kian hari kian menumpuk. “ Ini yang  seharusnya menjadi acuan pembangunan kebersihan di ibukota selama 20 tahun ke depan,” kata Sri.

Sumber : http://harianterbit.com

May 20

FRIC ber kolaborasi dengan InSWA gelar Sandset Music FestiVal

May 16

Jakarta Kewalahan Mengelola Sampah


JAKARTA,  — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih kewalahan menangani sampah Ibu Kota. Manajemen pengangkutan dan pengolahan sampah belum terbangun dengan baik. Pada saat bersamaan, produksi sampah belum bisa ditekan sehingga sampah berserakan di ruang-ruang publik.

Untuk mengatasi masalah itu, Pemprov DKI mengalokasikan anggaran Rp 1,3 triliun untuk dinas kebersihan. Sebagian besar dana itu dipakai untuk pengangkutan dan pengelolaan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat. Namun, tetap saja persoalan sampah di Jakarta tidak tertangani maksimal.

Peneliti Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Firdaus Ali, menilai, penanganan sampah bukan terletak pada besarnya alokasi anggaran, melainkan pada konsep penanganan yang tepat. ”Penanganan sampah itu sangat terkait dengan masalah sosial. Sayangnya, partisipasi masyarakat minim, begitu pula dengan sumber daya manusia dan prasarana yang ada,” kata Firdaus, Senin (31/3/2014), di Jakarta.

Dinas Kebersihan DKI Jakarta mengklaim sampah di DKI Jakarta yang diangkut ke Bantargebang berkisar 6.000-6.500 ton per hari. Saat ini tersedia 801 truk, sebanyak 510 truk di antaranya tidak layak pakai. Sebelumnya, 67 persen pengangkutan sampah dilakukan perusahaan swasta. Namun, per 31 Desember 2013, kontrak kerja sama dengan 24 perusahaan pengangkut sampah dihentikan.

Sejak itu, pengangkutan sampah dilakukan menggunakan truk DKI dan sewaan. Namun, jumlahnya tidak sebanding dengan produksi sampah, baik di permukiman maupun tempat umum lain. ”Ini bukti bahwa DKI sangat bergantung pada swasta. Ketika kerja sama berhenti, pemerintah gamang,” kata Firdaus.

Di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, tumpukan sampah menggunung hingga 2 meter. Kepala Suku Dinas Kebersihan Jakarta Selatan Zaenal Syarifudin mengakui, tumpukan sampah itu terjadi karena pihaknya kekurangan truk pengangkut. Di Jakarta Selatan saat ini baru tersedia 75 truk, sementara yang dibutuhkan 99 truk.

Di Kelurahan Bungur, Jakarta Pusat, sisa sampah yang tidak terangkut truk tersimpan dalam 30 gerobak sampah. Rohini (54), petugas kebersihan setempat, mengatakan, sejak awal 2014, truk pengangkut sampah hanya datang pada pagi hari. Sebelumnya, truk itu datang sehari dua kali pada pagi dan sore.

Solusi DKI

Pemprov DKI Jakarta menempuh berbagai cara untuk mengatasi masalah sampah. Salah satunya menyerahkan penanganan sampah di pasar tradisional per 1 April kepada PD Pasar Jaya. Namun, Direktur Utama PD Pasar Jaya Djangga Lubis mengatakan, pengelolaan itu belum dapat dilaksanakan secara mandiri. PD Pasar Jaya masih butuh bantuan dinas kebersihan karena belum punya truk pengangkut sampah di 153 pasar.

Menurut Wakil Kepala Dinas Kebersihan DKI Isnawa Adji, pembagian zona komersial itu akan disahkan melalui keputusan gubernur. ”Harapan kami ada keadilan karena pemerintah tidak lagi menangani sampah di area komersial, tetapi fokus di permukiman warga,” katanya.

Sementara itu, pengolahan sampah di dalam kota terus dikerjakan. Di TPST Rawasari, Jakarta Pusat, pengolahan sampah tetap berjalan meski dana dari Pemprov DKI Jakarta belum turun. Ketua Umum Indonesia Solid Waste Association (InSWA) Sri Bebassari mengatakan, pengolahan sampah organik menjadi kompos dilakukan dengan dana penelitian dari InSWA. Hal itu karena dana dari Pemprov DKI Jakarta belum cair.

Mengubah pola pikir

Terkait dengan masalah sampah, pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga, mendorong agar pemerintah tidak bergantung pada solusi teknis. Penyediaan truk dan perbaikan tempat pembuangan akhir belum cukup untuk mengurangi produksi sampah.

Pola pikir pemerintah, masyarakat, dan pengusaha juga perlu diubah. ”Menyelesaikan persoalan sampah bukan hanya melalui solusi teknis. Pemerintah dan masyarakat juga perlu mengubah pola pikir mereka. Persoalan sampah harus diselesaikan di sumbernya. Dengan begitu, tidak akan ada lagi persoalan sampah menumpuk,” kata Nirwono.

Masyarakat bisa mulai dengan memilah sampah organik dan non-organik di lingkungan rumah masing-masing. Sampah organik dikelola menjadi kompos, sedangkan sampah non-organik didaur ulang menjadi batako atau produk-produk lain yang bermanfaat. Gerakan seperti ini seharusnya didorong pemerintah. (A07/A14/A03/PIN/MDN/NDY/ART)

Sumber : Kompas.com

http://megapolitan.kompas.com/read/2014/04/01/0831590/Jakarta.Kewalahan.Mengelola.Sampah

 

May 05

Restauranpun ternyata bisa tanpa sampah


Seorang pemilik restoran di Chicago mengaku belum pernah membuang sampah selama dua tahun menjalankan usahanya. Tapi, jangan dulu mengira restorannya lantas penuh sampah. Sebaliknya, Justin Vrany, 36, menetapkan konsep “zero waste restaurant” alias rumah makan tanpa sampah.
Restoran bernama Sandwich Me In itu berupa restoran siap saji. Padahal umumnya, restoran siap saji memproduksi banyak sampah, mulai dari bahan makanan hingga kemasan pembungkus. Lalu apa yang dilakukan Vraney?
Kepada Huffington Post, Vraney menjelaskan semua “sampah” yang dihasilkan restorannya dia gunakan kembali.
“Saya juga menerapkan konsep pembelanjaan secara lokal, jadi semua produk bahan makanan yang datang ke restoran tidak dalam kemasan besar yang akan menyebabkan banyak sampah,” terang Vraney.
Tidak hanya itu, Vraney juga menerapkan produksi hemat energi dan praktek 5R, yakni Reduce, Reuse, Recycle, serta Reject dan Refuse yang dilakukannya untuk produk-produk berkemasan yang ditawarkan ke restorannya.
Tapi Vraney mengakui, tidak mudah menjalankan restoran tanpa sampah dan juga hemat energi. Selama enam bulan, praktis Vraney kerja sendirian karena dia berusaha menekan energi dan juga produksi sampah.
“Memiliki banyak karyawan sama dengan menambah jumlah sampah,” katanya.

Untuk itu, Vraney dengan selektif memilih karyawannya. Dia hanya mempekerjakan mereka yang punya visi dan misi serupa dengannya.
“Bagi saya, ini bukan soal uang. Saya melihat gambaran besarnya, ini untuk masa depan dunia yang akan saya wariskan bagi anak-anak saya,” ujar Vraney.
Kabar baiknya, karena Vraney tidak mengeluarkan biaya untuk mengelola sampah, dia pun bisa menekan harga jual makanannya. Alasan yang membuat pelanggan terus mengalir ke Sandwich Me In.
Lalu bagimana cara Vraney mengolah “sampah” hariannya? Pria tersebut mengungkapkan, sisa sayuran yang tidak terpakai tidak masuk dalam tong sampah, melainkan disumbangkan pada petani untuk pakan ternak, yang juga merupakan supplier Vraney.
Selain itu, sampah kering seperti kemasan makanan yang dibawa masuk pelanggan, diberikan Vraney kepada seniman lokal untuk dijadikan karya seni.
“Ini bisnis yang berkelanjutan dan saya harap lebih banyak pengusaha restoran bisa menerapkan hal ini,” ujarnya. (ms)

Sumber : http://life.viva.co.id/news/read/500624-restoran-ini-tidak-buang-sampah-dua-tahun

 

Mar 11

Project Based Learning (PBL) Kelas 7 Sekolah Alam Cikeas, Belajar Sampah di TPST Rawasari

http://inswa.or.id/wp-content/uploads/2014/03/PBL-tile.jpg
Pada 3-5 Maret 2014 lalu, TPST Rawasari dan Kelurahan Cempaka Putih Timur menjadi lokasi kegiatan PBL semester kedua siswa kelas 7 SAC. Di semester pertama, mereka telah melaksanakan PBL ke Muara Angke dan Pulau Rambut. Di sana mereka mengukur kualitas air, melihat sendiri bagaimana sampah menutupi sungai, lalu menyebar ke muara dan laut, membahayakan kehidupan makhluk hidup; burung dan ikan, mengancam pendapatan para nelayan dan kualitas hidup masyarakat setempat.

PBL kedua ini mereka mencari tahu solusi permasalahan sampah sehingga sampah tidak mengancam lingkungan, tidak menutupi saluran air, tidak terbuang ke tempat-tempat ilegal.

Di TPST Rawasari, anak2 belajar mengelola sampah skala kawasan dan rumah tangga; mulai dari mengangkut sampah, memilah, hingga mengolah dengan proses pengomposan..mereka juga melakukan studi jenis dan komposisi sampah, mengetahui peran serta masyarakat, aspek kelembagaan dan pembiayaan dalam pengelolaan sampah di tingkat masyarakat.

Anak-anak belajar bahwa setiap orang harus bertanggungjawab terhadap sampahnya, sampah bukan sesuatu yang menakutkan dan menjijikkan, bahkan bisa memberi manfaat buat kita semua jika dikelola dengan baik.

Dengan memberikan pembelajaran sejak dini terhadap perlunya kelestarian lingkungan khususnya pengolahan sampah, diharapkan anak-anak akan lebih terbangun kesadarannya, mengingat mereka adalah generasi penerus yang akan memikul tanggung jawab akan kelangsungan bumi ini dimasa yang akan datang

That was a great experience..bring a lot of happiness to share with great wonderful children..

Jan 16

Banjir Jakarta Surut, Sampah Menggunung

Banjir Jakarta Surut, Sampah Menggunung Jakarta – Banjir yang melanda Jakarta dalam dua hari terakhir sudah mulai surut. Namun, masalah baru muncul: sampah menggunung di permukiman warga hingga ke jalan raya.

Misalnya di Jalan Otista Raya dan Jalan Kalibata Raya, Jakarta Timur, sampah terlihat tertumpuk di sisi jalan. Berbagai macam sampah seperti piring, gelas, dan bahkan kasur teronggok. Tak ayal lagi, lalu lintas pun sempat tersendat.

Suku Dinas Kebersihan Jakarta Timur telah mengerahkan sepuluh truk sampah serta 200 petugas kebersihan untuk mengangkut tumpukan sampah sejak Senin kemarin. “Setiap harinya sepuluh truk mengangkut sampah,” ujar Kepala Suku Dinas Kebersihan Jakarta Timur Apul Silalahi, Rabu, 15 Januari 2014.

Apul menyatakan, sebagian sampah bukan berasal dari sungai, tapi dari rumah warga. “Setelah banjir, banyak warga yang membuang barang yang tidak diperlukan lagi akibat terendam banjir,” ucapnya. Maka, ia melanjutkan, “Dibuanglah ke sisi jalan.”

Apul mengaku, kedua jalan raya tersebut merupakan ruas yang paling banyak dipenuhi sampah. “Yang lain ada, tapi tak sebanyak ini dan masih bisa diatasi oleh petugas,” katanya.

Setelah diambil petugas kebersihan, kata dia, sampah diangkut ke Bantar Gebang, Bekasi, serta ke Kelapa Dua Wetan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur.

Sumber: Tempo.co

Jan 02

Soal sampah,ternyata warga Jakarta belum berubah

http://www.metrotvnews.com/image.php?image=bank_images/actual/118992.jpgJAKARTA, KOMPAS.com – Kesadaran warga atas kebersihan Jakarta masih rendah. Timbunan sampah setelah acara Jakarta Night Festival (JNF) 2013-2014 adalah indikator hal tersebut. Kepala Dinas Kebersihan Jakarta, Unu Nurdin mengatakan meski pihaknya belum mendapatkan laporan berapa jumlah sampah warga di acara itu, tapi dia telah mendapat gambaran umumnya.

“Secara umum masih belum ada kesadaran akan kebersihan bagi warga Jakarta. Kita lihat masih sangat banyak sampah di sekitar jalan,” ujar Unu ketika dihubungi wartawan, Rabu (1/1/2014).

“Ada yang buang nasi bungkus. Coba bayangin satu orang, satu nasi bungkus dibuang ke jalan. Akhirnya lengket. Tambah beban buat kita saja. Karena itu sampah basah, jadi berat,” lanjut Unu.

Unu menyesali sampah-sampah berserakan di dekat tong sampah. Unu mengaku heran apakah warga melihat tong sampah tersebut atau tidak. Unu yakin, peningkatan kesadaran akan kebersihan akan menguntungkan pihaknya dan warga sendiri.

Sekedar gambaran, JNF 2012 meninggalkan 600 ton sampah atau 10 persen dari sampah yang dihasilkan seluruh wilayah DKI Jakarta dalam sehari. Jumlah tersebut terbilang fantastis karena sekitar satu juta warga yang datang dari Jakarta dan sekitarnya memenuhi kawasan Senayan-Medan Merdeka Barat. Perayaan tersebut digelar hanya dalam waktu 5 jam atau sejak pukul 21.00 – 02.00 dini hari.

Sumber: Kompas.com

Dec 20

Para Pembuang Sampah Sembarangan di Jakarta Mulai Diadili

http://4.bp.blogspot.com/-S1tQ2D1XPlc/TWpcilDVBbI/AAAAAAAAASk/MMBiBBvW64s/s1600/buang+sampah+sembarangan.JPGJakarta. Diam-diam, ternyata petugas satpol PP sudah mulai bertugas mengawasi dan menangkap basah para pembuang sampah. Para pelakunya pun sampai menjalani sidang yustisi.

Hal ini sudah dilakukan di seluruh wilayah Jakarta Selatan. Sebanyak 86 orang terjaring dari 10 kecamatan. Mereka menjalani sidang yustisi di kantor Kelurahan Kebayoran Lama Utara, Kamis (12/12/2013).

Yusuf (35), warga Cipete Utara, Cilandak, Jakarta Selatan, menjadi salah seorang yang menjalani sidang yustisi tersebut. Dia mengaku bersalah karena sudah membuang sampah sembarangan.

“Tadinya mau berangkat kerja, eh inget kalau sidangnya sekarang (kemarin). Ini kejadiannya sekitar dua minggu kemarin, gara-gara buang plastik sembarangan di sekitar Pasar Blok A, eh tiba-tiba ditangkap satpol PP, KTP langsung disita,” ujarnya sambil tertawa.

Cerita yang sama pun dilontarkan Imam (36), warga Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan. Ia juga mengaku tertangkap basah saat buang sampah sembarangan di dekat Pasar Tebet. Imam harus membayar Rp 50.000 berdasarkan keputusan hakim.

“Enggak apa-apa deh hilang Rp 50.000. Tapi, emang harus begini. Kalau enggak, mana bisa orang teratur? Tapi, kalau usul saya sih jangan cuma di tempat-tempat umum kayak pasar sama terminal saja yang dijaga, tapi di rumah-rumah pinggir kali juga. Soalnya itu yang buang sampah sembarangan tiap hari,” ujar pria berkulit sawo matang itu.

Saat sidang berlangsung, tidak semuanya menerima denda yang diberikan hakim. Beberapa orang merasa keberatan, khususnya para ibu-ibu rumah tangga. Menurut mereka, denda terbilang besar. “Ya kalau tahu begini ogah deh buang sampah sembarangan lagi. Mahal banget,” celetuk Marni (46), warga Pancoran Jakarta Selatan

Langkah berat

Kasatpol PP Jakarta Selatan Sulistiarto mengatakan, sidang yang digelar oleh Pemkot Jakarta Selatan tersebut memutuskan sanksi perdata kepada sebanyak 86 orang warga yang tertangkap basah dan berhasil diamankan oleh Satpol PP Jakarta Selatan.

“Ada yang ketangkap basah petugas karena buang sampah sembarangan. Tapi, ada juga yang kita nilai enggak peduli kebersihan, seperti warung yang enggak menyediakan tempat sampah dan membiarkan sampah dagangannya berserakan, ikut kita tertibkan,” ungkapnya.

Namun, ungkapnya, dari sebanyak 86 orang pelanggar yang dipanggil kemarin, hanya 57 orang yang hadir di persidangan. Sisanya, 29 orang, mangkir. “Walaupun enggak hadir, kita akan tetap proses dengan verstek. Warga akan diundang dan diproses di kelurahannya masing-masing,” jelasnya.

Sesuai dengan Perda No 3 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah, denda maksimal Rp 100.000. Namun, pada sidang tersebut, hakim belum menerapkan denda maksimal karena masih dalam tahap sosialisasi masyarakat.

“Tapi, kalau sudah aktif tahun 2014 besok, bukan cuma denda administratif ataupun sanksi sosial saja, tapi pembayaran uang paksa juga akan diterapkan,” jelasnya.

Dia mengatakan, uang paksa lebih tinggi dari jumlah denda maksimal yang besarannya mencapai Rp. 500,000,-(m-16)

Sumber : Tribun News

 

Dec 13

Konsultan Amerika Tertarik TPA Supit Urang

TPA Supit UrangMALANG – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supit Urang milik Pemkot Malang benar-benar menjadi daya tarik investor asing. Sebelumnya, investor dari Jerman telah melakukan survey di TPA yang berlokasi di Kelurahan Mulyorejo, Kecamatan Sukun ini. Investor dari Prancis, Belanda, Kanada juga pernah berminat terhadap TPA ini.
Kemarin, dua perwakilan dari SCS Engineers yang berasal dari Amerika Serikat, David S Greene PE dan Brent L Dieleman selaku Project Professional juga melakukan peninjauan. Keduanya didampingi Dini Trisyanti selaku Deputy of Capacity Building and Technical Assistence, Indonesia Solid Waste Association (InSWA).
Mereka sangat memuji TPA Supit Urang ini. Menurutnya, TPA ini berbeda dengan TPA-TPA yang pernah dikunjunginya.‘’Yang pertama, secara perencanaan TPA Supit Urang ini sudah sangat maju dan memiliki pemikiran lebih kedepan. Yang kedua, inovasi di TPA ini sudah terlihat. Dan yang ketiga, sudah ada partnership atau kerja sama, yakni dengan masyarakat sekitar,’’ kata David S Greene PE kepada Malang Post.
Kedua orang ini juga melihat langsung penggunaan gas metan yang digunakan masyarakat sekitar TPA sebagai penganti bahan bakar gas. Perlu diketahui, sebanyak 408 rumah yang berada di sekitar TPA sudah memanfaatkan gas metan untuk keperluan sehari-hari. Gas metan ini disalurkan melalui pipa-pipa ke rumah-rumah yang terhubung dengan kompor gas.
Oleh masyarakat gas metan tidak hanya digunakan memasak di dapur sebagai keperluan sehari-hari saja, namun juga untuk usaha rumah tangga. Seperti yang ditinjau David S Greene PE dan Brent L Dieleman. Keduanya melihat langsung masyarakat yang memanfaatkan gas metan untuk tambal ban dan usaha bakso.
‘’Kami ingin hal-hal yang baru tentang TPA di Malang. Sebelumnya, kami pernah ke Jogjakarta dan Tangerang. Kali ini lihat di Malang ingin mempelajari lebih lanjut secara umum operasional TPA-nya dan lebih fokus ke gas metan,’’ kata David S Greene PE.
Menurut David S Greene PE, salah satu ide pemikiran, gas metan itu bisa digunakan untuk usaha masyarakat sekitar, seperti laundry. Pihaknya akan membantu berkomunikasi dengan jarak jauh.
Sementara itu Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Malang mengatakan potensi gas metan yang digunakan saat ini masih sekitar tiga persen saja. Meski hanya tiga persen, namun sudah bisa digunakan masyarakat sekitar sebanyak 408.
‘’Awalnya yang menggunakan gas metan 300 KK (kepala keluarga.Red). Setelah itu ditambah lagi 180 sehingga total yang menggunakan gas metan sekarang ini 408 KK. Respon masyarakat pun sangat bagus sehingga selalu, tanya kapan dipasang lagi. Masyarakat sekitar merasa diuntungkan dengan adanya TPA Supit Urang ini,’’ kata Wasto.
Menurut Wasto pula, saat ini sedang memprogramkan alat isian gas metan ke tabung gas. Meski masih dalam tahap eksperimen, nantinya bisa menjadi fungsi dari LPG. ‘’Sehingga tak hanya wilayah TPA Supit Urang saja yang bisa memanfaatkan gas metan, wilayah lain juga bisa memanfaatkannya. Jika berhasil gas metan ini akan diproduksi secara besar-besaran sesuai dengan kapasitasnya. Eksperimennya 3 kilo LPG bisa digunakan 30 kilometer untuk kendaraan bermotor. Seandainya berhasil, truk-truk DKP yang memuat sampah akan menggunakan gas metan,’’ katanya.(jon)

Sumber: Malang Pos

Dec 10

1.3 Miliar Ton Pangan Dunia Terbuang Percuma Setiap Tahun

foodwaste blog 300x225 Shocking food waste

Perilaku dan gaya hidup konsumsi masyarakat modern saat ini terbukti berdampak pada penurunan kualitas lingkungan.  Terbukti,  setiap tahunnya, 1/3 dari pangan yang diproduksi di dunia –sekitar 1.3 miliar ton—terbuang dan menjadi sampah. United Nation Environmental Programme (UNEP) mengungkapkan, dari 1.3 miliar ton limbah makanan tersebut, negara-negara industri menyumbang limbah makanan sebesar 670 juta ton setiap tahun, yang jika dikonversikan ke dalam nilai uang setara dengan 680 miliar Dolar AS. Sedangkan negara-negara berkembang menyumbang 630 jutan ton limbah makanan setiap tahun, setara dengan 310 miliar Dolar AS (KLH, 2013).

Lebih lanjut, setiap tahun 22 persen produksi minyak sayur dan kacang-kacangan terbuang sia-sia, 266 miliar ton (30 persen) produksi sereal tidak termakan alias terbuang, 20 persen susu terbuang, 45 persen umbi dan akar tanaman terbuang, dan 45 persen buah-buahan dan sayuran terbuang sia-sia.  Fakta lain penduduk di negara-negara kaya memiliki kebiasaan membuang-buang makanan secara berlebihan dengan jumlah mencapai 222 juta ton per tahun. Jumlah tersebut adalah hampir sama dengan produksi pangan sub-Sahara Afrika dengan total 23- jutan ton.

Eksploitasi sumberdaya alam besar-besaran terjadi hampir di seluruh permukaan bumi; air; tanah, dan udara demi memenuhi kebutuhan hidup 7 miliar penduduk dunia.  Mengatasi upaya kegiatan produksi dan konsumsi yang berlebihan ini, konsep Sustainable Consumption and Production (SCP) kemudian diperkenalkan kepada segenap masyarakat, baik masyarakat konsumen maupun masyarakat industri di dunia.

Seperti dikatakan Asisten Standardisasi dan Teknologi Kementerian Lingkungan Hidup Ir Noer Adi Wardojo MSc, SCP sendiri merupakan agenda dunia bagian dari pewujudan membangunan berkelanjutan  (sustainable development) yang telah dicanangkan sejak Deklarasi Rio tahun 1992.  Komitmen penerapan SCP dilanjutkan dan dikuatkan dengan Johannesburg Plan of Implementation tahun 2002 dan Konferensi United Nations Conference on Sustainable Development (Rio+20) di Rio de Janeiro, Brasil pada bulan Juni 2012.  Dalam Konferensi Rio+20 tersebut, penerapan SCP  dikaitkan dengan upaya pengentasan kemiskinan dan green economy.

SCP pada dasarnya merupakan upaya mewujudkan kegiatan konsumsi dan produksi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, melibatkan multi stakeholders  melalui pendekatan sosial budaya dan komunikasi, kebijakan, teknologi, insititusi, dan finansial. Di Indonesia, untuk mendukung penerapan SCP, beberapa perangkat kebijakan dan perangkat teknis telah dikembangkan sebelumnya antara lain produksi bersih, teknologi ramah lingkungan, kajian dampak lingkungan sepanjang daur hidup barang/jasa, produk/jasa ramah lingkungan (ekolabel), pengadaan barang/jasa ramah lingkungan, “green lifestyle”, dan lain-lain.

Bertepatan pada Hari Lingkungan Hidup Dunia tanggal 5 Juni lalu, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup meluncurkan Kerangka Program 10 Tahun Penerapan Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan di Indonesia (10 Y SCP Indonesia). Peluncurkan yang dibuka secara resmi oleh Menteri LH Prof. Dr. Balthasar kambuaya MBA ini merupakan upaya penerapan adopsi dokumen “The Future We Want” yang merupakan kesepakatan masing-masing negara yang hadir dalam Konfrensi Rio+20 tersebut dimana United Nations Environments Programme (UNEP) ditunjuk sebagai sekretariatnya.

Dokumen 10 YFP SCP Indonesia memuat peta jalan Indonesia dalam periode waktu 2013 – 2023. Ada lima program prioritas yang akan dilaksanakan yakni. “Green Building”, “Green Procurement”, “Green Industry”, “Green Tourism” dan Pengelolaan Sampah.(Rafianti-InSWA)

Older posts «

» Newer posts